Pascapandemi, Sudah Pulihkah Pendidikan Kita dari ‘Learning Loss’?
📅 Jumat, 25 Agu 2023, 12:06 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
George Adam Sukoco, Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Senza Arsendy, The University of Melbourne
Awal 2020, riset terbatas kami menunjukkan hanya 28% siswa yang melaksanakan pembelajaran daring, sementara sisanya belajar tatap muka di luar sekolah atau terpaksa tidak belajar sama sekali.
Riset lain kami juga menemukan terjadinya penurunan partisipasi sekolah dari tahun ajaran 2019/2020 ke 2020/2021.
Penurunan partisipasi sekolah selama pandemi telah membawa dampak signifikan terhadap pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah terjadinya learning loss, yaitu hilangnya kemampuan yang telah dikuasai siswa sebelumnya atau kesenjangan (learning gap) antara kemampuan belajar siswa dengan standar tertentu baik nasional maupun internasional.
Seperti apa learning loss yang terjadi di Indonesia dan sudah pulihkah kita dari kondisi tersebut?
Sebaiknya Anda baca juga:
Learning loss: siswa belum mencapai standar
Hasil studi kami menemukan bahwa siswa kelas awal di Indonesia mengalami indikasi kehilangan hasil belajar setara dengan 0,47 standar deviasi/sd (atau 6 bulan pembelajaran) untuk literasi dan 0,44 sd (atau 5 bulan pembelajaran) untuk numerasi setelah satu tahun belajar di masa pandemi. Standar deviasi atau simpangan baku adalah persebaran data pada suatu sampel untuk melihat seberapa jauh atau seberapa dekat nilai data dengan rata-ratanya.
Indikasi tersebut menunjukkan, capaian pembelajaran yang seharusnya sudah dikuasai siswa setelah satu tahun belajar di tahun ajaran normal, berkurang menjadi setengahnya saja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan di Amerika Serikat (0,14 sd) atau Cina (0,22 sd).
Learning loss yang terjadi juga berkontribusi terhadap semakin melebarnya kesenjangan hasil belajar, dengan sejumlah besar siswa belum mencapai standar kompetensi yang diharapkan.
Studi kami menemukan pada tahun ajaran 2020/2021, di bidang numerasi, hanya satu dari lima anak kelas 1 (atau sekitar 22% siswa) yang telah mencapai standar kurikulum darurat, yaitu kurikulum nasional yang sudah disederhanakan dan digunakan di masa pandemi. Sebagai contoh, mayoritas siswa belum mampu melakukan operasi hitungan sederhana dengan jumlah hitungan lebih dari 20.
Sementara untuk literasi, hanya 1 dari 3 siswa kelas dua yang telah memenuhi standar kemampuan minimum berdasarkan indikator Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Artinya, sebagian besar siswa belum mampu membaca teks sederhana dengan lancar dan mandiri serta mengerti makna dari teks yang mereka baca.
Efek jangka panjang learning loss
Tidak hanya mendisrupsi perkembangan anak di masa sekarang, learning loss juga berpotensi mengganggu masa depan anak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!