Sulit Capai Tujuan Emisi Karbon Tanpa Diversifikasi Sumber Protein
📅 Selasa, 01 Agu 2023, 00:08 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP
» Asia adalah mangkuk makanan dunia, menghasilkan 40 hingga 45 persen daging di dunia.
» Perlu upaya bersama memacu sektor pangan dan pertanian yang mengefisienkan energi sehingga tujuan Perjanjian Paris tercapai.
SINGAPURA - Sepuluh ekonomi terbesar di Asia perlu melakukan diversifikasi antara 30 dan 90 persen dari produksi protein tradisional mereka ke protein alternatif pada 2060, guna mengurangi emisi karbon dan mencapai tujuan Perjanjian Paris.
Laporan terbaru yang diterbitkan Asia Research and Engagement (ARE), baru-baru ini menyebutkan emisi dari produksi dan sumber protein hewani semakin membahayakan industri makanan, keuntungan, dan pembiayaannya.
Dikutip dari The Straits Times, laporan perusahaan sosial yang bekerja untuk pembangunan berkelanjutan tersebut menyatakan peternakan yang menjadi sumber utama protein di sebagian besar pasar, dan padat energi, menyumbang 68 persen emisi dalam industri makanan, dan membutuhkan lebih banyak lahan dan sumber daya daripada makanan nabati.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Transisi Protein di ARE, Kate Blaszak, mengatakan dengan konsumsi protein global yang meningkat 45 persen dalam dua dekade pertama abad ini, Asia menyumbang 60 persen dari pertumbuhan tersebut. Sebab itu, ada kebutuhan mendesak untuk diversifikasi sumber protein untuk meminimalkan emisi karbon.
"Jika kita tidak bertransisi, kita tidak akan mencapai tujuan Perjanjian Paris," katanya.
Tujuan menyeluruh dari kesepakatan tersebut adalah untuk menahan peningkatan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, dan mengejar upaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Blaszak menguraikan aspek-aspek tertentu dari transisi protein ini, meliputi protein hewani yang bertanggung jawab, tetapi terbatas melalui kerja yang adil, memastikan kondisi yang manusiawi di peternakan, serta nol deforestasi untuk ternak, dan sumber protein alternatif yang lebih berkelanjutan yang hemat energi dan biaya.
"Asia adalah mangkuk makanan dunia, menghasilkan 40 hingga 45 persen daging dunia," katanya.
Riset ARE berfokus pada 10 pasar terbesarnya, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Vietnam, Filipina, Malaysia, Thailand, India, dan Pakistan.

Semakin Parah
Berdasarkan penelitiannya, ARE menekankan bahwa pengurangan produksi protein hewani harus dimulai paling cepat pada 2030. Jika tindakan tidak diambil dan produksi protein terus berlanjut dalam kondisi seperti saat ini, dampak perubahan iklim akan semakin parah. Akibatnya, kata Blaszak, ketahanan pangan global akan terganggu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!