Pemanasan Global Justru Bisa Berujung Zaman Es
📅 Selasa, 23 Des 2025, 05:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: AFP/Jose Jorquera
Para peneliti di University of California–Riverside (UC Riverside) mengumumkan bahwa mereka telah mengidentifikasi celah kritis dalam pemahaman ilmuwan mengenai sistem daur ulang karbon Bumi. Dengan mengisi bagian yang selama ini hilang, para peneliti kini percaya bahwa pemanasan global dapat berayun terlalu jauh ke arah sebaliknya dan berpotensi menyiapkan panggung bagi terjadinya zaman es.
Selama beberapa dekade, ilmuwan beranggapan iklim Bumi diatur oleh proses alami yang lambat namun dapat diandalkan, terutama melalui pelapukan batuan. Mekanisme ini dipandang sebagai kekuatan penstabil yang mencegah suhu global bergeser terlalu jauh ke salah satu arah.
Dalam proses tersebut, hujan menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer sebelum jatuh ke permukaan daratan yang terbuka. Ketika air berinteraksi dengan batuan, khususnya batuan silikat seperti granit, batuan tersebut secara bertahap terurai. Material terlarut beserta CO₂ yang tertangkap kemudian terbawa ke lautan.
Sesampainya di laut, karbon bergabung dengan kalsium yang dilepaskan dari batuan untuk membentuk cangkang organisme laut dan terumbu karang kapur. Material ini kemudian mengendap di dasar laut, mengunci karbon selama ratusan juta tahun dan secara perlahan mengurangi jumlah karbon dioksida di atmosfer.
“Saat planet semakin panas, batuan mengalami pelapukan lebih cepat dan menyerap lebih banyak CO₂, sehingga mendinginkan planet kembali,” kata Andy Ridgwell, ahli geologi UC Riverside dan salah satu penulis studi yang diterbitkan di jurnal Science.
Sebaiknya Anda baca juga:
Zaman Es Kuno
Namun, catatan geologis menunjukkan kisah yang jauh lebih dramatis. Bukti ilmiah mengungkapkan bahwa beberapa zaman es paling awal di Bumi begitu parah hingga es dan salju menutupi hampir seluruh permukaan planet.
Menurut para peneliti, tingkat pembekuan ekstrem ini tidak dapat dijelaskan oleh sistem iklim yang hanya menyesuaikan diri secara halus. Kesadaran tersebut mendorong tim peneliti untuk mencari proses tambahan yang mampu mendorong iklim melampaui keseimbangan normal menuju kondisi ekstrem.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peran Lautan dan Plankton
Faktor baru yang diidentifikasi berkaitan dengan cara karbon terkubur di lautan. Ketika kadar CO₂ di atmosfer dan suhu global meningkat, curah hujan membawa lebih banyak nutrisi, seperti fosfor, ke laut. Nutrisi ini merangsang pertumbuhan plankton, organisme mikroskopis yang menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis.
Ketika plankton mati, organisme tersebut tenggelam ke dasar laut sambil membawa karbon yang telah diserap. Proses ini menghilangkan karbon dari atmosfer dan menyimpannya di sedimen laut.
Namun, dalam kondisi yang lebih hangat, sistem ini dapat berubah. Peningkatan pertumbuhan plankton berpotensi mengurangi kadar oksigen di lautan. Dengan semakin sedikit oksigen yang tersedia, fosfor lebih mudah dilepaskan kembali ke air daripada terkubur secara permanen.
Fosfor yang terus didaur ulang ini memicu pertumbuhan plankton dalam jumlah lebih besar. Pembusukan plankton selanjutnya semakin mengurangi oksigen dan menjaga nutrisi tetap beredar. Ketika siklus ini berlanjut, semakin banyak karbon yang terkubur, sehingga suhu global mulai menurun.
Sistem Iklim
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!