Es Krim Mixue Jadi Senjata ‘Soft Power’ Tiongkok di Asia Tenggara
📅 Selasa, 18 Jul 2023, 10:37 WIB | Oleh: Tim PenulisPemerintah Cina sendiri terus mendorong perusahaan-perusahaan dari negara tersebut untuk berekspansi ke luar negeri. Sebab, ekspansi akan menguntungkan tak hanya secara ekonomi saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan citra positif Cina di ranah global.
Dorongan tersebut terutama diterapkan dan terbukti membuahkan hasil di sektor teknologi. Berkat dukungan pemerintah, teknologi Cina mengalami kemajuan yang sangat pesat. Cina, misalnya, sukses memproduksi smartphone seperti Xiaomi dan Oppo yang memiliki pangsa pasar cukup besar di Indonesia.
Selain itu, terdapat juga bisnis ritel populer yang memiliki hubungan kuat dengan Cina, seperti halnya Miniso dan Usupso, serta merek baru yang selalu ramai pengunjung, yakni KKV. Produk-produk Cina tersebut dipercaya dapat bersaing di pasar global karena memiliki biaya produksi yang rendah.
Pengaruh Mixue di Indonesia
Sebaiknya Anda baca juga:
Mixue menjual es krim dan produk minumannya dengan harga yang kompetitif, yakni antara Rp 8.000 hingga Rp 22.000. Sebagai perbandingan, waralaba teh populer asal Taiwan, Chatime, memasarkan produk minumannya dengan harga antara Rp 19.0000 hingga Rp 31.000. Tak heran, Mixue dapat dengan cepat menarik segmen masyarakat yang lebih besar.
Menariknya lagi, Mixue juga tampaknya cukup kebal terhadap tren penurunan laba akibat pandemi COVID-19. Bahkan, sejak awal 2022, Mixue gencar bertumbuh di tanah air hingga mencapai 1.000 gerai. Kemunculan gerai-gerai baru ini menghadirkan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia ketika banyak bisnis lain ambruk pascapandemi.
Persepsi negatif tentang Cina di Indonesia tentu tidak sepenuhnya dapat dihilangkan oleh viralnya merek es krim dan minuman yang digandrungi oleh khalayak ramai. Kendati demikian, tak dapat disangkal, semakin luas Mixue menyebar di Indonesia, akan semakin banyak pula orang yang menyadari bahwa ada aspek kehadiran Cina di Indonesia yang banyak disukai oleh masyarakat.![]()
Sebaiknya Anda baca juga:
Muhammad Zulfikar Rakhmat, Researcher, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Yeta Purnama, Researcher, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!