Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Es Krim Mixue Jadi Senjata ‘Soft Power’ Tiongkok di Asia Tenggara

📅 Selasa, 18 Jul 2023, 10:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Es Krim Mixue Jadi Senjata ‘Soft Power’ Tiongkok di Asia Tenggara Doc: The Conversation/Shutterstock/AsepSur
Ket. Papan sebuah gerai Mixue di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Muhammad Zulfikar Rakhmat, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Yeta Purnama, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

Mixue mulai mendominasi bisnis es krim dan teh di Asia Tenggara semenjak lima tahun terakhir, setelah membuka gerai luar negeri pertamanya di Vietnam pada 2018. Perusahaan asal Cina tersebut kini telah memiliki 22.500 gerai, termasuk di negara asalnya.

Sekitar 1.000 gerai Mixue kini beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Filipina, Thailand, dan Indonesia. Sebagai perbandingan, Starbucks dan McDonalds yang telah jauh lebih lama berdiri masing-masing hanya memiliki 10.000 dan 9.100 gerai di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Di Indonesia, Mixue menjadi tren di berbagai platform media sosial. Masyarakat antusias mengunggah produk Mixue serta membuat lelucon dan meme yang menjadi viral. Tak jarang kita menemukan Mixue bertengger di trending topics Twitter. Saking viralnya, beredar guyonan untuk "waspada jika ada ruko kosong di daerahmu karena tak lama akan berubah menjadi gerai Mixue baru."

Ada tiga faktor yang berkontribusi di balik kisah sukses Mixue di Indonesia: efisiensi rantai pasokan, harga produk yang terjangkau dan kemudahan dalam mendirikan franchise.

Sebagai peneliti yang berfokus pada hubungan Cina-Indonesia, kami berpendapat bahwa Mixue - bersama dengan operasi ritel internasional berbasis Cina lainnya seperti Miniso - tak hanya sekedar kisah bisnis sukses. Merek-merek tersebut berpotensi membantu Cina mempromosikan citra nasional yang positif di mata masyarakat Indonesia.

Lebih dari sekadar bisnis

Dalam konteks hubungan internasional, makanan termasuk dalam sebaran budaya dan dapat bertindak sebagai duta nasional yang memengaruhi diplomasi. Sebuah negara dapat menggunakan makanan sebagai soft power untuk menampilkan karakteristik dan simbol budaya yang positif.

Sementara itu, terkait merek, sebuah studi tahun 2012 menunjukkan bahwa pengetahuan publik tentang negara asal sebuah brand dapat meningkatkan citra negara tersebut. Lewat survei terhadap 500 responden di Amerika Serikat (AS), penelitian ini mengamini klaim yang dibuat oleh Olle Wästberg, mantan direktur Swedish Institute, bahwa merek furnitur IKEA justru berkontribusi lebih banyak pada citra positif Swedia dibandingkan pemerintah. Studi tersebut juga menemukan bahwa pandangan responden terhadap Austria meningkat ketika mengetahui bahwa minuman energi populer Red Bull berasal dari negara tersebut.

Seperti halnya kedua brand di atas, Mixue bisa saja memiliki potensi serupa bagi citra Cina di mata populasi Indonesia.

Gerai pertama Mixue di Indonesia hadir di Bandung pada 2020. Pertumbuhannya yang pesat membuat masyarakat penasaran. Hal ini kemudian mendorong berbagai platform media untuk memberitakan tentang asal mula brand Mixue, siapa pemiliknya, dan bahkan arti namanya ("salju yang manis seperti madu"). Banyak orang kemudian mengungkapkan kegembiraannya ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sertifikat halal untuk Mixue.

Menurut pemberitaan, Mixue juga telah membantu mengatasi pengangguran dengan merekrut tenaga kerja lokal. Dengan popularitas yang kian meroket di Indonesia, kehadiran Mixue baik secara langsung maupun tidak langsung juga telah membantu upaya Cina untuk meningkatkan citranya di Tanah Air.

Persepsi negatif tentang Cina

Pada dasarnya, sentimen negatif terhadap Cina masih relatif tinggi di kalangan masyarakat Indonesia. Sebuah survei pada 2022 oleh ISEAS-Yushof Ishak mengungkapkan bahwa 65,9% responden Indonesia menyatakan khawatir atas makin intensifnya pengaruh Cina dalam perekonomian Indonesia. Sementara itu, sebanyak 25,4% responden Indonesia menilai kebangkitan ekonomi Cina berpengaruh negatif terhadap Indonesia

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.