Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Badan Penelitian Kanker WHO: Pemanis Buatan Aspartam Berpotensi Menyebabkan Kanker

📅 Kamis, 29 Jun 2023, 16:51 WIB | Oleh:
Badan Penelitian Kanker WHO: Pemanis Buatan Aspartam Berpotensi Menyebabkan  Kanker Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi beragam Jenis gula dan pemanis buatan. (ANTARA/Shutterstock)

LONDON - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), baru-baru ini dilaporkan akan menyatakan Aspartam, salah satu pemanis buatan yang paling umum di dunia, sebagai Karsinogenik (zat yang berpotensi menyebabkan kanker).

Menurut dua sumber yang mengetahui prosesnya, International Agency for Research on Cancer (IARC), badan penelitian kanker WHO, bulan depan akan menetapkan bahwa Aspartam, yang digunakan dalam produk-produk minuman soda diet Coca-Cola hingga permen karet Mars Extra dan beberapa minuman Snapple, berpotensi karsinogenik bagi manusia.

Dikutip dari Reuters, putusan IARC, yang diselesaikan awal bulan ini setelah pertemuan para pakar eksternal kelompok tersebut, dimaksudkan untuk menilai apakah sesuatu berpotensi menimbulkan bahaya atau tidak, berdasarkan semua bukti yang dipublikasikan.

Itu tidak memperhitungkan berapa banyak produk yang dapat dikonsumsi seseorang dengan aman. Nasihat ini berasal dari komite ahli WHO yang terpisah tentang bahan tambahan makanan, yang dikenal sebagai
Komite Pakar Gabungan WHO dan Organisasi Pangan dan Pertanian untuk Bahan Tambahan Pangan atau Joint WHO and Food and Agriculture Organization's Expert Committee on Food Additives (JECFA), bersama dengan penetapan dari regulator nasional.

Namun, keputusan IARC serupa di masa lalu untuk zat yang berbeda telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen tentang penggunaannya, menyebabkan tuntutan hukum, dan menekan produsen untuk membuat ulang resep dan beralih ke alternatif. Hal itu menimbulkan kritik bahwa penilaian IARC dapat membingungkan publik.

JECFA, komite aditif WHO, juga meninjau penggunaan aspartam tahun ini. Pertemuannya dimulai pada akhir Juni dan akan mengumumkan temuannya pada hari yang sama ketika IARC mengumumkan keputusannya, m pada 14 Juli.

Sejak 1981, JECFA menyatakan aspartam aman dikonsumsi dalam batas harian yang diperbolehkan. Misalnya, orang dewasa dengan berat 60 kilogram yang setiap hari minum antara 12 dan 36 kaleng soda diet, berisiko, tergantung pada jumlah aspartam dalam minuman. Pandangannya telah dibagikan secara luas oleh regulator nasional, termasuk di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Seorang juru bicara IARC, mengatakan temuan komite IARC dan JECFA dirahasiakan hingga Juli, tetapi menambahkan bahwa temuan itu "saling melengkapi".

"Dengan kesimpulan IARC mewakili langkah mendasar pertama untuk memahami karsinogenisitas". Komite aditif melakukan penilaian risiko, yang menentukan kemungkinan jenis kerusakan tertentu (misalnya, kanker) terjadi dalam kondisi dan tingkat paparan tertentu," ujarnya.

Namun, industri dan regulator khawatir bahwa jika kedua proses pada waktu yang bersamaan dapat membingungkan, menurut surat dari regulator AS dan Jepang yang dilihat oleh Reuters.

"Kami dengan hormat meminta kedua badan untuk mengoordinasikan upaya mereka dalam meninjau aspartam untuk menghindari kebingungan atau kekhawatiran di kalangan masyarakat," tulis Nozomi Tomita, pejabat dari Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang, dalam surat tertanggal 27 Maret kepada wakil direktur jendera lWHO, Zsuzsanna Jakab.

Surat tersebut, juga menyerukan agar kesimpulan kedua badan tersebut dirilis pada hari yang sama, seperti yang terjadi sekarang. Misi Jepang di Jenewa, tempat WHO bermarkas, tidak menanggapi permintaan komentar.

Putusan IARC dapat berdampak besar. Pada 2015, panitia menyimpulkan bahwa glifosat "mungkin bersifat karsinogenik". Bertahun-tahun kemudian, bahkan ketika badan lain seperti Otoritas Keamanan Pangan Eropa atau the European Food Safety Authority
(EFSA) menentang penilaian ini, perusahaan masih merasakan dampak dari keputusan tersebut. Bayer Jerman pada 2021 kehilangan banding ketiganya terhadap putusan pengadilan AS yang memberikan ganti rugi kepada pelanggan yang menyalahkan mereka atas kanker dari penggunaan pembunuh gulma berbasis glifosat.

Keputusan IARC juga menghadapi kritik karena memicu peringatan yang tidak perlu karena zat atau situasi yang sulit dihindari. Badan itu sebelumnya memasukkan bekerja hingga malan dan mengonsumsi daging merah ke dalam kelas "kemungkinan penyebab kanker", dan penggunaan ponsel sebagai "kemungkinan penyebab kanker", mirip dengan aspartam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

70 Ribu Migran yang Masuk ke Ceuta telah Pulang ke Maroko

49 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
70 Ribu Migran yang Masuk k...
Daerah
Update Kebakaran Hutan Gunu...

Bank Dunia Serukan Negara-negara Berkembang untuk Rangkul “AI” atau Akan Tertinggal

Bank Dunia Serukan Negara-negara Berkembang untuk Rangkul “AI” atau Akan Tertinggal

04 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.