Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengenal Bakteriofag, Virus Baik Mirip Antibiotik yang Melawan Infeksi Bakteri

📅 Sabtu, 24 Jun 2023, 13:46 WIB | Oleh: Tim Penulis

Bakteriofag sebagai terapi penyembuhan infeksi bakteri patogen yang resisten saat ini telah diterapkan di banyak negara Barat.

Eliava Institute of Bacteriophage and the Institute of Immunology and Experimental Therapy di Wroclaw Polandia menjadi salah satu institusi terdepan yang menggunakan bakteriofag untuk menyembuhkan penyakit infeksi.

Di Prancis dan Belgia, pada kasus-kasus pasien mengalami kegagalan terapi menggunakan antibiotik, bakteriofag digunakan sebagai 'terapi alternatif'.

Dalam beberapa kasus, bakteriofag mampu menyembuhkan penyakit infeksi bakteri yang sangat resisten dan mengancam nyawa.

Baru-baru ini di Inggris, seorang pasien penderita Cystic Fibrosis mengalami infeksi Mycobacterium abscessus yang resisten terhadap antibiotik. Setelah mendapatkan terapi bakteriofag, infeksi pun hilang dan kondisi kesehatan pasien pun berangsur membaik.

Pada aplikasinya terapi bakteriofag dapat digunakan secara mandiri ataupun dalam bentuk kombinasi dengan antibiotik. Riset juga membuktikan bahwa bakteriofag dan antibiotik, jika dikombinasikan, akan meningkatkan angka kesembuhan.

Selain itu, kombinasi ini juga memungkinkan berkurangnya konsentrasi antibiotik yang digunakan.

Di negara-negara Barat, banyak dilakukan uji klinis terapi bakteriofag. Di Indonesia, teknologi ini masih belum populer. Ilmuwan dan juga praktisi klinis membutuhkan keterbukaan terhadap inovasi baru, selain antibiotik, untuk menanggulangi masalah resistensi antibiotik di Indonesia.

Selain itu, ilmuwan yang mendalami riset terapi bakteriofag dan praktisi kesehatan perlu melakukan kolaborasi yang terbuka untuk mengembangkan inovasi ini. Hal ini penting untuk mulai memperkenalkan terapi bakteriofag sebagai teknologi alternatif kepada pasien-pasien yang membutuhkan.The Conversation

Rizka Oktarianti Ainun Jariah, PhD Student in Medical Microbiology, University of Leicester dan Mohamad S. Hakim, Dosen dan peneliti di Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.