Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal ‘Toxic Masculinity’ dan Asal-usulnya, Berbahayakah bagi Sekitar?

📅 Kamis, 27 Apr 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengenal ‘Toxic Masculinity’ dan Asal-usulnya, Berbahayakah bagi Sekitar? Doc: MEER
Ket. Donald Trump adalah contoh maskulinitas toksik (beracun) dalam banyak hal.

Michael Flood, Queensland University of Technology

Sulit untuk menghindari istilah toxic masculinity akhir-akhir ini.

Istilah ini telah dikaitkan dengan kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan, rendahnya kredibilitas pemerintah mantan perdana menteri Australia Scott Morrison terhadap perempuan menjelang pemilihan umum tahun ini - dan lebih jauh lagi, kebangkitan mantan president Amerika Serikat Donald Trump dan kerusuhan di gedung parlemen Amerika Serika.

Hal ini secara teratur diterapkan pada karakter budaya pop yang beragam seperti kutu buku dinosaurus yang hipersensitif, Ross Gellar dari Friends, pezina beralkohol Don Draper di Mad Men, dan Nate yang kejam dan tertindas dalam Euphoria, yang secara teratur mengatakan kepada pacarnya, "Jika ada orang yang mencoba melukaimu, saya akan membunuh mereka.

Toxic masculinity adalah istilah yang belum dikenal pada tahun 1990-an dan awal 2000-an. Namun sejak sekitar tahun 2015, istilah ini mulai digunakan dalam diskusi tentang laki-laki dan gender.

Jadi apa definisi dari Toxic masculinity?

Maskulinitas merujuk pada peran, perilaku, dan atribut yang dianggap sesuai untuk anak laki-laki dan laki-laki dalam suatu masyarakat. Singkatnya, maskulinitas mengacu pada ekspektasi masyarakat terhadap laki-laki.

Di banyak masyarakat, anak laki-laki dan laki-laki diharapkan untuk menjadi kuat, aktif, agresif, tangguh, berani, heteroseksual, tidak ekspresif secara emosional, dan dominan. Hal ini dipaksakan oleh sosialisasi, media, teman sebaya, dan sejumlah pengaruh lainnya. Dan hal ini terlihat dalam perilaku banyak anak laki-laki dan laki-laki.

Istilah toxic masculinity menunjuk pada versi maskulinitas tertentu yang tidak sehat bagi laki-laki dewasa dan anak laki-laki yang menyesuaikan diri dengannya dan berbahaya bagi orang-orang di sekitar mereka.

Frasa ini menekankan aspek-aspek terburuk dari atribut stereotip maskulin. Toxic masculinity diwakili oleh kualitas-kualitas seperti kekerasan, dominasi, ketidakmampuan emosional, hak seksual, dan permusuhan terhadap feminitas.

Versi maskulinitas ini dianggap "beracun" karena dua alasan.

Pertama, ini buruk bagi perempuan. Hal ini membentuk perilaku seksis dan patriarkis, termasuk perlakuan kasar atau kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian, toxic masculinity berkontribusi pada ketidaksetaraan gender yang merugikan perempuan dan mengistimewakan laki-laki.

Kedua, toxic masculinity berdampak buruk bagi laki-laki dewasa dan anak laki-laki itu sendiri. Norma-norma stereotip yang sempit membatasi kesehatan fisik dan emosional laki-laki serta hubungan mereka dengan perempuan, laki-laki lain, dan anak-anak.

Asal-usul istilah toxic masculinity

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.