Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manusia Purba Denisovan Menurunkan Sistem Kekebalan Orang Papua

📅 Kamis, 22 Des 2022, 00:00 WIB | Oleh:
Manusia Purba Denisovan Menurunkan Sistem Kekebalan Orang Papua Doc: Istimewa

Perjumpaan manusia purba Denisovan dengan nenek moyang manusia modern Homo Sapiens perkawinan menurunkan tanda pada sifat kekebalan orang Papua modern.

Pengurutan genom penelitian yang dilakukan pada orang-orang yang tinggal di Pulau New Guinea menunjukkan hal itu.

"Ini adalah penemuan baru yang kami uraikan dalam penelitian yang dipublikasikan di PLoS Genetics hari ini," tulis Dosen Senior Genetika Manusia, The University of Melbourne Irene Gallego Romero dan Peneliti pasca-doktoral, The University of Melbourne, Davide Vespasiani.

Manusia adalah satu-satunya spesies hidup dari genus Homo. Pada 50.000 tahun yang lalu, nenek moyang manusia hidup berdampingan dan terkadang berinteraksi dengan banyak kelompok Homo lainnya di seluruh dunia.

Sebagian besar dari Denisovan hanya diketahui dari sisa-sisa arkeologis yang jarang, yang menawarkan kilasan menggiurkan dari sepupu evolusioner manusia. Berkat kemajuan teknologi, para ilmuwan telah mengambil DNA dari fosil dan mengurutkannya.

"Hasilnya, kita sekarang memiliki urutan genom lengkap dari hominin kuno yang paling terkenal, Neanderthal, dan kelompok yang jauh lebih sulit dipahami, Denisovans," tulis keduanya di laman The Conversation.

Meskipun banyak fosil Neanderthal telah digali di seluruh Eropa sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1860-an, jumlah fosil Denisovan diperoleh sangat sedikit. Urutan genom yang diketahui berasal dari tulang terkecil dari jari kelingking.

Tulang Denisovan tersebut berasal dari sisa-sisa seorang gadis remaja berusia 60.000 tahun dari sebuah gua di Siberia. Hal ini menjadi satu dari sedikit fosil Denisovan terbesar yang diketahui hingga saat ini. Urutan genom ini telah mengubah cara berpikir tentang kerabat manusia yang telah punah.

Pertama, mereka dengan cepat menunjukkan bahwa ketika manusia purba berkembang di luar Afrika, mereka melakukan hubungan seks dan anak-anak dengan populasi lain ini. Jejak genom mereka bertahan pada individu yang hidup hari ini, ditransmisikan melintasi ratusan generasi.

Dalam kasus Neanderthal, jejak ini ada pada semua individu keturunan non-Afrika saat ini. Dalam kasus Denisovans, peneliti menemukan jejak kecil genom mereka pada orang-orang dari seluruh Asia terutama di Papua Nugini, dan di negara kepulauan di Asia Tenggara. Sebesar 4-5 persen genom mereka dari berasal dari nenek moyang itu.

Tantangan sebenarnya adalah untuk menemukan konsekuensi biologis dari DNA ini bagi orang-orang yang membawanya. "Pertanyaan penelitian khusus kami adalah untuk menunjukkan dengan tepat proses molekuler yang mungkin dipengaruhi oleh keberadaannya," kata mereka.

Studi DNA Neanderthal telah menunjukkan bahwa varian genetik yang diwariskan darinya dapat mengubah tingkat di mana beberapa gen manusia diekspresikan. Spesies manusia purba yang telah punah di misalnya berkontribusi pada sistem kekebalan manusia.

Salah satunya kekebalan yang diwariskan dari Neanderthal adalah perbedaan dalam cara orang merespons infeksi Covid-19, dan variasi warna kulit dan rambut. Namun untuk Denisovan tidak pernah jelas apakah DNA-nya meninggalkan tren serupa pada manusia modern.

Pada 2019, sebuah penelitian mengungkapkan koordinat genom di mana DNA Denisovan dapat ditemukan dalam genom individu Papua. Mereka adalah penduduk asli Papua New Guinea yang hidup hari ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

New York Menjadi Negara Bagian Pertama di AS Larang Kacamata Pintar

26 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
New York Menjadi Negara Bag...
Olahraga
Piala Dunia, Andreas Schjel...
Olahraga
Veda Ega “Pede Aja” di ...
Rona
Seragam Timnas Indonesia Di...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi, DPR Minta Hukuman Mati dan Bentuk Panja Pengawasan

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi, DPR Minta Hukuman Mati dan Bentuk Panja Pengawasan

11 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.