Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Manusia Purba Denisovan Menurunkan Sistem Kekebalan Orang Papua

27 Kamis, 22 Des 2022, 00:00 WIB | Oleh:

Kontribusi Denisovan

Mereka memperhatikan bahwa pada orang Papua, varian genetik Denisovan dan Neanderthal kadang-kadang muncul di dalam bagian genom yang bertanggung jawab untuk memodulasi tingkat ekspresi gen terdekat. Namun, hanya varian Denisovan yang diprediksi secara konsisten terjadi dan mempengaruhi elemen yang mengendalikan tingkat ekspresi gen terkait kekebalan.

Jadi, sumber DNA yang berbeda ini mungkin berkontribusi pada keragaman genetik dan fenotipik orang Papua dengan cara yang berbeda. Untuk memvalidasi prediksi kedua peneliti merancang eksperimen yang membandingkan lima sekuens Denisovan dengan rekan manusia modern, dan menguji kemampuan mereka untuk benar-benar memengaruhi tingkat ekspresi gen di dalam jenis sel kekebalan tertentu yang dikenal sebagai limfosit.

Dalam dua dari lima kasus, varian Denisovan memang memiliki dampak yang sangat berbeda pada tingkat ekspresi gen daripada rekan manusia modern mereka. Dan mereka memengaruhi gen yang dikenal sebagai pemain penting dalam respons terhadap mikroba menular, termasuk virus.

Fakta bahwa Denisovans, tampaknya telah berkontribusi pada sistem kekebalan orang Papua saat ini, juga memberi tahu sesuatu tentang orang-orang kuno ini. Meskipun sedikit yang bisa diketahui tentang seberapa luas penduduk Denisovans Asia hidup, ini menunjukkan bahwa sistem kekebalan mereka berubah untuk beradaptasi dengan penyakit menular di lingkungan mereka.

Ketika manusia pindah 60.000 tahun yang lalu, potongan-potongan DNA ini kemungkinan besar berkontribusi pada keberhasilan manusia dalam menetap di bagian dunia ini. Sementara penelitian ini adalah yang pertama menjelaskan kontribusi DNA Denisovan dalam keragaman genetik manusia modern.

Oleh karenanya menurut Gallego Romero dan Vespasiani, penelitiannya masih menyisakan beberapa pertanyaan menarik untuk dijawab. Salah satunya adalah secara khusus, tidak jelas apakah kontribusi keseluruhan varian genetik Denisovan dan Neanderthal secara konsisten berbeda satu sama lain.

"Penting juga untuk dicatat bahwa kami menguji varian genetik dalam sel kekebalan dalam kondisi istirahat. Ini berarti varian genetik yang sama atau yang lain mungkin memiliki efek yang berbeda di lingkungan ini akan menjadi pertanyaan penting untuk penelitian di masa depan," papanya. hay

Metode Genomik Berhasil Memprediksi Anatomi Wajah Denisovan

Saat ini orang dengan mudan membayangkan wajah seorang Neanderthal, dengan dahinya yang rendah, alisnya yang seperti kumbang, dan hidungnya yang besar. Namun hingga saat ini, para ilmuwan pun hanya bisa menebak ciri-ciri Denisovans yang juga sama-sama telah punah.

Sebuah cara yang baru-baru ini dikembangkan untuk mendapatkan petunjuk tentang anatomi dari genom kuno. Hal ini memungkinkan para peneliti mengumpulkan gabungan kasar dari seorang gadis muda yang tinggal di Gua Denisova di Siberia di Rusia 75.000 tahun yang lalu. Goa itu kemudian menjadi nama dari spesies manusia purba itu.

Kelingking ditambah tiga gigi menjadi satu-satunya fosil untuk mendapatkan gambaran tentang Denisovans yang semuanya berasal dari Gua Denisova. Selain itu rahang bawah yang baru-baru ini diidentifikasi dari Gua Karst Baishiya Tiongkok menjadi petunjuk lain.

Kemudian pada 2014, para peneliti memperkenalkan metode baru berdasarkan epigenetik - seperangkat kenop molekuler yang dapat menaikkan atau menurunkan ekspresi gen untuk menganalisis regulasi gen pada hominin yang telah lama punah. Salah satu tombol tersebut adalah modifikasi kimia yang disebut metilasi, yang membungkam ekspresi gen.

Dalam DNA termetilasi, satu nukleotida, sitosin, terdegradasi selama ribuan tahun menjadi produk akhir yang berbeda dari biasanya. Dengan melacak degradasi itu dalam genom kuno, para ilmuwan dapat membuat "peta" metilasi.

Liran Carmel dan David Gokhman, ahli genetika di Hebrew University of Jerusalem, dan rekan mereka menerapkan metode ini pada DNA di kelingking gadis itu dari Gua Denisova. Mereka membandingkan peta metilasi gadis itu dengan peta serupa dari manusia modern, Neanderthal, dan simpanse, berfokus pada area di mana tingkat metilasi berbeda lebih dari 50 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
PIHPS Catat Harga Cabai Raw...
Megapolitan
Banyak Kegiatan Internasion...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Harry Kane Menangkan Ballon d'Or 2026, Begini Kisah di Balik Kesuksesannya

Harry Kane Menangkan Ballon d'Or 2026, Begini Kisah di Balik Kesuksesannya

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.