Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manusia Purba Denisovan Menurunkan Sistem Kekebalan Orang Papua

📅 Kamis, 22 Des 2022, 00:00 WIB | Oleh:

"Hal ini membuat kami mulai melihat ke wilayah ini, untuk memahami proses seluler dan biologis yang mungkin dipengaruhi oleh DNA Denisovan. Kami mengambil pendekatan hibrida untuk pertanyaan ini, membuat prediksi komputasi terlebih dahulu, dan menindaklanjuti dengan eksperimen berbasis laboratorium untuk memvalidasi temuan kami," ujar Gallego Romero dan Vespasiani.

Selain itu, peneliti memanfaatkan DNA Neanderthal yang diketahui pada orang-orang ini untuk menyoroti kontribusi khusus Denisovan. Hal ini memberi mereka pemahaman yang lebih terintegrasi tentang bagaimana pertemuan dengan kerabat ini meninggalkan potensi konsekuensi biologis dan evolusioner pada manusia modern.

Kontribusi Denisovan

Mereka memperhatikan bahwa pada orang Papua, varian genetik Denisovan dan Neanderthal kadang-kadang muncul di dalam bagian genom yang bertanggung jawab untuk memodulasi tingkat ekspresi gen terdekat. Namun, hanya varian Denisovan yang diprediksi secara konsisten terjadi dan mempengaruhi elemen yang mengendalikan tingkat ekspresi gen terkait kekebalan.

Jadi, sumber DNA yang berbeda ini mungkin berkontribusi pada keragaman genetik dan fenotipik orang Papua dengan cara yang berbeda. Untuk memvalidasi prediksi kedua peneliti merancang eksperimen yang membandingkan lima sekuens Denisovan dengan rekan manusia modern, dan menguji kemampuan mereka untuk benar-benar memengaruhi tingkat ekspresi gen di dalam jenis sel kekebalan tertentu yang dikenal sebagai limfosit.

Dalam dua dari lima kasus, varian Denisovan memang memiliki dampak yang sangat berbeda pada tingkat ekspresi gen daripada rekan manusia modern mereka. Dan mereka memengaruhi gen yang dikenal sebagai pemain penting dalam respons terhadap mikroba menular, termasuk virus.

Fakta bahwa Denisovans, tampaknya telah berkontribusi pada sistem kekebalan orang Papua saat ini, juga memberi tahu sesuatu tentang orang-orang kuno ini. Meskipun sedikit yang bisa diketahui tentang seberapa luas penduduk Denisovans Asia hidup, ini menunjukkan bahwa sistem kekebalan mereka berubah untuk beradaptasi dengan penyakit menular di lingkungan mereka.

Ketika manusia pindah 60.000 tahun yang lalu, potongan-potongan DNA ini kemungkinan besar berkontribusi pada keberhasilan manusia dalam menetap di bagian dunia ini. Sementara penelitian ini adalah yang pertama menjelaskan kontribusi DNA Denisovan dalam keragaman genetik manusia modern.

Oleh karenanya menurut Gallego Romero dan Vespasiani, penelitiannya masih menyisakan beberapa pertanyaan menarik untuk dijawab. Salah satunya adalah secara khusus, tidak jelas apakah kontribusi keseluruhan varian genetik Denisovan dan Neanderthal secara konsisten berbeda satu sama lain.

"Penting juga untuk dicatat bahwa kami menguji varian genetik dalam sel kekebalan dalam kondisi istirahat. Ini berarti varian genetik yang sama atau yang lain mungkin memiliki efek yang berbeda di lingkungan ini akan menjadi pertanyaan penting untuk penelitian di masa depan," papanya. hay

Metode Genomik Berhasil Memprediksi Anatomi Wajah Denisovan

Saat ini orang dengan mudan membayangkan wajah seorang Neanderthal, dengan dahinya yang rendah, alisnya yang seperti kumbang, dan hidungnya yang besar. Namun hingga saat ini, para ilmuwan pun hanya bisa menebak ciri-ciri Denisovans yang juga sama-sama telah punah.

Sebuah cara yang baru-baru ini dikembangkan untuk mendapatkan petunjuk tentang anatomi dari genom kuno. Hal ini memungkinkan para peneliti mengumpulkan gabungan kasar dari seorang gadis muda yang tinggal di Gua Denisova di Siberia di Rusia 75.000 tahun yang lalu. Goa itu kemudian menjadi nama dari spesies manusia purba itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Baru Hitungan Hari, Meta Ca...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi, DPR Minta Hukuman Mati dan Bentuk Panja Pengawasan

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi, DPR Minta Hukuman Mati dan Bentuk Panja Pengawasan

11 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.