Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nasib Buruh Migran yang Membantu Qatar Mewujudkan Piala Dunia

📅 Rabu, 14 Des 2022, 05:01 WIB | Oleh:
Nasib Buruh Migran yang Membantu Qatar Mewujudkan Piala Dunia Doc: Istimewa
Ket. Rani, seorang ibu rumah tangga dengan suami yang telah delapan tahun meninggalkan desa untuk bekerja di Qatar.

KATHMANDU - Piala Dunia 2022 hampir berakhir, menandai 12 tahun masa konstruksi mega proyek Qatar. Ratusan buruh migran telah membantu mewujudkan transformasi ajang itu.

Mereka bekerja di lingkungan yang keras dan berbahaya bagi keselamatan. Tapi sekarang bagaimana nasib mereka ?

Adalah Nepal, negara kecil yang selama ini telah mengirim lebih banyak pekerja ke Qatar per kapita daripada negara mana pun.

Pada musim gugur 2022, The New York Times mewancarai hampir tiga lusin pekerja konstruksi asal Nepal di Qatar serta anggota keluarga mereka, untuk mempelajari seperti apa kehidupan mereka sekarang dan masa depan mereka. Sebagian besar telah terlibat proyek konstruksi terkait Piala Dunia, termasuk stadion dan infrastruktur lain yang mendukung ledakan pembangunan Qatar.

Setelah mengalami kondisi eksploitatif atau berbahaya, banyak pekerja mengatakan bahwa mereka tetap terjebak dalam kemiskinan dan hutang, tanpa pilihan selain terus bekerja di luar negeri, apa pun risikonya.

Di provinsi Madhesh, salah satu kawasan pertanian di Nepal, merantau sebagai pekerja migran telah menjadi alternatif selain bercocok tanam. Hidup terpisah telah menjadi budaya bagi sebagian keluarga di sana.

Rani, seorang ibu rumah tangga mengatakan, sang suami telah delapan tahun meninggalkan desa untuk bekerja di Qatar. Ayahnya menderita sakit dan tagihan obat telah membawa keluarga mereka terjerat utang, kondisi yang memaksa suaminya untuk merantau.

"Selama itu dia hanya bisa pulang tiga kali," ujar ibu dari satu anak ini.

Dia mengisahkan, setiap hari suaminya menyempatkan melakukan panggilan video, termasuk untuk menyapa Naida, anak perempuan mereka.

"Biasanya antara 10 sampai 15 menit. Hanya dengan mendengar suara ayahnya Naira bisa tenang dari rewel," ungkap dia.

Suami Rani yang merahasiakan identitas, mengatakan, ia terpaksa menjadi buruh migran meski hidup dalam kondisi yang sulit.

"Ruangan kami tidak nyaman. Mereka mengumpulkan kita seperti ternak," ujarnya menggambarkan bangsal tempat pekerja beristirahat yang penuh sesak.

Dia mengaku sangat rindu dengan keluarga dan ingin pulang ke kampung halaman. Namun setiap mengingat bahwa keluarganya sangat membutuhkan uang yang dikirimkan ke rumah, ia mengurungkan niat itu.

"Dulu rumah kami terbuat dari tanah liat. Setelah lima tahun bekerja, kini keluarga saya bisa tinggal di bangunan yang lebih layak. Saya ingin kerja di sini lima tahun lagi," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Nasional
Daya Beli Melemah, Pinjol K...
Rona
Tahu Rencana Ayu Ting Ting ...

Api Kepung Habitat, 51 Orangutan Berhasil Dievakuasi

41 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Nasional
Api Kepung Habitat, 51 Oran...
Advertisement
Petugas Evakuasi Hiu Tutul yang Terdampar di Pantai Parangkusumo

Petugas Evakuasi Hiu Tutul yang Terdampar di Pantai Parangkusumo

18 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.