Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Badan Pangan Wajibkan Importir Serap Kedelai Lokal

📅 Selasa, 07 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

"Jika tidak dilakukan dengan benar maka hanya bagus secara konsep. Sebab, bisa saja pelaksanaannya memunculkan praktik koruptif karena para pengusaha dan penyelenggara negara melakukan berbagai siasat untuk tetap impor dengan memenuhi syarat yang telah ditetapkan," kata Said.

Supaya berjalan dengan baik, Said menyebutkan tiga hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam pengembangan kedelai lokal. Pertama, soal produksi dalam negeri, importasi dan preferensi konsumsi kedelai. Produksi dalam negeri selama ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan atau konsumsi. Bahkan dari tahun ke tahun terus berkurang.

Hal itu terkait dengan ketersediaan lahan yang terbatas karena bersaing dengan komoditas lain yang harga jualnya lebih baik semisal jagung. "Produksi jadi terbatas karena sebagian petani sudah tidak menanam kedelai lagi karena harganya kalah dengan komoditas lain. Sementara harga kedelai yang tertekan harga kedelai impor menjadikannya jauh di bawah harga jagung," kata Said.

Kedua, soal harga kedelai impor yang rendah dan volume yang besar. Tanpa proteksi yang memadai maka produksi dalam negeri juga akan sulit, misalnya soal ketentuan pajak impor yang diperbesar.

Harga kedelai impor yang murah menyebabkan harga kedelai lokal tidak bisa mengejar dengan biaya produksi yang lumayan tinggi, sementara harga impor jauh lebih murah karena pajak rendah bahkan bisa jadi ada dumping.

Terakhir, katanya, soal preferensi konsumen yang sudah sangat biasa mengonsumsi kedelai impor yang besar-besar. Akibatnya, para pengrajin tahu tempe juga lebih suka pakai yang impor karena lebih disukai konsumen pada umumnya harganya lebih murah.

"Kewajiban bagi importir mengakomodasi kedelai lokal sesuatu yang baik tentu dengan harapan harga menguntungkan petani sehingga menstimulasi mereka untuk tetap menanam," pungkas Said.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Teknologi Makin Canggih, Kenapa Hilirisasi Indonesia Masih Tersendat?
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai kendala hilirisasi; dari ...
  • Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri
    Preview komentar:
    Tantangan mendasar yang dipaparkan secara tajam dalam artikel ...
  • Pemprov Kaltara Dorong UMKM Dilibatkan dan Masuk Kawasan Industri
    Preview komentar:
    Langkah strategis Pemprov Kaltara memfasilitasi UMKM lokal untuk ...

Kkorban Gempa NTT Bertambah Jadi 71 Orang

54 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Kkorban Gempa NTT Bertambah...

Mahasiswa di Malang Tewas Ditusuk Teman Asrama, Pelaku Ditangkap

54 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Mahasiswa di Malang Tewas D...
Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

19 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.