Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bisa Ketagian Lho, Mengenal Lebih Dekat Makanan 'Lem' Papeda yang Menjadi Kuliner Khas Papua

📅 Minggu, 10 Okt 2021, 15:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bisa Ketagian Lho, Mengenal Lebih Dekat Makanan 'Lem' Papeda yang Menjadi Kuliner Khas Papua Doc: ANTARA/Atman Ahdiat
Ket. Hidangan papeda di sebuah restoran di pinggir Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua.

Jayapura - "Makanan apa itu? Kok seperti lem? Hati-hati nanti ususnya bisa lengket...." begitulah pertanyaan dan candaan yang sering keluar ketika mengunduh foto-foto kegiatan kuliner makanan khas Papua yang dikenal dengan nama papeda.

Melihat fisiknya, papeda memang sangat mirip dengan lem dari tepung kanji, berbahan dasar sagu, berwarna putih bening. Bagi yang pertama kali mencicipi, pada awalnya akan merasa aneh, seperti menelan lem. Tapi sekali mencoba akan ketagihan karena papeda yang telah dicampur bumbu ternyata memberikan sensasi tersendiri. Begitu masuk mulut, diamkan sejenak untuk mendapatkan rasa dan kemudian langsung telan.

Seperti halnya nasi, papeda tidak bisa dinikmati secara terpisah, tapi harus dilengkapi dengan makanan pendamping. Makanan pendamping paling populer dan sangat digemari adalah ikan tongkol gulai kuning, serta tumis daun pepaya muda dan kangkung.

Untuk menikmatinya pun ada seni tersendiri. Karena menyerupai lem dan kenyal, akan sulit untuk memindahkan papeda ke dalam mangkok dengan sendok atau garpu bagi yang belum berpengalaman. Fendy, seorang rekan warga Kota Jayapura yang mendampingi makan papeda di pinggir Sungai Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, kemudian memperagakan teknik memindahkan papeda ke mangkok secara benar.

"Sulit kalau hanya pakai sendok, harus pakai dua garpu," kata Fendy, sambil mencelupkan dua garpu kayu ke dalam adonan papeda dan kemudian mengangkatnyasecara horizontal, lalu memutar-mutar kedua garpu ke arah dalam dan arah luar. Setelah papeda menggumpal sesuai dengan porsi yang diinginkan, baru kemudian dipindahkan ke mangkok, tanpa tercecer.

Papeda yang sudah ada di dalam mangkok kemudian diguyur dengan ikan kuah kuning, dicampur bumbu dan tumis kangkung atau daun pepaya muda, dan bisa langsung ditelan tanpa perlu dikunyah.

Seperti dikutip dari situs Indonesian Chef Association, dibalik kelezatannya, papeda menyimpan riwayat sejarah. Papeda dikenal luas dalam tradisi masyarakat adatdi Danau Sentani danManokwari. Masyarakat adat Papua sangat menghormati sagu lebih dari sekadar makanan. Beberapa suku di Papua bahkan mengenal mitologi sagu dengan kisah penjelmaan manusia.

Di Raja Ampat, sagu dianggap sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Oleh karena itu, saat memanen sagu, kerap digelar upacara khusus sebagai rasa syukur dan penghormatan akan hasil panen sagu yang melimpah.

Makanan ini juga dihidangkan pada upacara adat Papua, Watani Kame. Upacara ini dilakukan sebagai tanda berakhirnya siklus kematian seseorang. Nantinya, papeda dibagikan paling banyak untuk relasi yang sangat membantu pada upacara tersebut.

Di Pulau Seram, Maluku, Suku Nuaulu mengonsumsi papeda atau sonar monne. Makanan ini disakralkan dalam ritual perayaan masa pubertas seorang gadis. Suku Nuaulu dan Suku Huaulu melarang wanita haid memasak papeda, karena menurut mereka proses merebus sagu menjadi papeda dianggap tabu.

Proses mengolah sagu menjadi bubur papeda membutuhkan perkakas belanga. Lalu, saat air mendidih dituangkan ke dalam saripati sagu sambil diaduk hingga mengental dan terjadi perubahan warna, dari putih menjadi bening keabu-abuan. Pengadukan dalam proses ini harus searah hingga tekstur benar-benar merata menjadi bubur lem.

Dari sisi nutrisi, ternyata papeda memiliki banyak manfaat yang baik bagi tubuh. Kaya akan serat dan rendah kolesterol, mengandung nutria esensial seperti protein, karbohidrat, kalsium, fosfor dan zat besi. Jika rutin mengonsumsi papeda, bisa meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi risiko kanker usus, mampu mengatasi sakit pada ulu hati, perut kembung, mengurangi risiko kegemukan, memperlancar pencernaan, hingga membersihkan paru-paru.

Sebagai makanan khas Papua, papeda ternyata memiliki filosofi yang mendalam. Saat menyantap papeda, satu keluarga biasanya menyantap dengan dilengkapi helai dan hote. Helai merupakan alat makan tradisional yang terbuat dari kayu sebagai tempat penyajian papeda. Sementara hote merupakan piring kayu sebagai tempat untuk menyantap papeda. Bagi mereka, acara makan keluarga menandai sebagai ikatan kekeluargaan sebagai ruang diskusi antara orang tua dan anak.

Digeser oleh nasi

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Mendag Tegaskan HET Minyakita Tetap Rp15.700 Per Liter

29 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Nasional
Mendag Tegaskan HET Minyaki...
Ekonomi
Pertamina Tegaskan Harga BB...
Nasional
Kepala Bapanas: Penyerapan ...
  • Pemkot Bandung Bongkar 174 Bangunan Liar di Jalan Terusan Pasirkoja
    Preview komentar:
    Parkir liar gimana nihhh dijalan kebon jati,, itu ...
  • Jakarta Siapkan Diri Menuju Kota Berbasis AI
    Preview komentar:
    Cara buka Blokir Bank Jago lupa Password. Anda ...
    Cara buka Blokir Bank Jago lupa Password. Anda ...
  • Malasyia Mencak-mencak Kebakaran Jenggot Dimasukkan ke Dalam Kelas Dua Sepak Bola Asean
    Preview komentar:
    Jiran kita kejet-kejet tanpa bisa berbuat apa2
KPK akan Periksa Lagi Ahmad Dedi, Pejabat Bea Cukai yang Viral karena Lari dari Wartawan

KPK akan Periksa Lagi Ahmad Dedi, Pejabat Bea Cukai yang Viral karena Lari dari Wartawan

18 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.