Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perhatikan Indikasi Kampas Rem Mulai Menipis

📅 Selasa, 21 Sep 2021, 20:41 WIB | Oleh:
Perhatikan Indikasi Kampas Rem Mulai Menipis Doc: ISTIMEWA
Ket. kampas rem

JAKARTA - Sistem pengereman merupakan salah satu bagian penting pada kendaraan yang mendukung keselamatan pengemudi. Data Kementerian Perhubungan menyebut, pada 2015 sampai dengan 2020, terdapat 528.058 kasus kecelakaan lalu lintas, beberapa kasus diantaranya terkait dengan pengereman.

Keselamatan berkendara tentunya harus didukung sistem pengereman yang baik. Mobil yang sering digunakan untuk aktivitas sehari-hari dapat memengaruhi kondisi sistem pengereman, khususnya kampas rem (brake pad).

"Ketika sudah menipis, sistem pengereman terganggu, dan tentu saja berisiko mengakibatkan kecelakaan," kata Channel Marketing Manager Bosch Automotive Aftermarket Indonesia, Arditya Wicaktama pada konferensi pers virtual Selasa (21/9).

Karena kinerja pengereman sangat penting oleh karenanya pemilik kendaraan perlu memperhatikan beberapa indikasi yang menunjukkan kampas rem sudah menipis. Pertama ketika mobil memerlukan lebih banyak waktu untuk berhenti sempurna dan rem terasa kopong. Kedua terdengar suara gesekan saat mengerem. Ketiga kendaraan bergerak ke satu arah saat melakukan pengereman.

"Cepat ausnya kampas rem umumnya karena kebiasaan mengemudi yang sering menginjak pedal rem, kondisi jalanan yang macet, serta kondisi jalanan yang menurun, dan masa pakainya sudah melebihi 40.000 km," terangnya.

Agar aman dalam berkendara, mobil juga perlu didukung dengan komponen kampas rem yang memiliki sistem pengereman mumpuni. Pasalnya komponen kampas rem memiliki beban kerja yang paling berat dengan masa pakai yang cenderung lebih singkat.

"Karena itu, penting untuk memperhatikan kualitas dan kinerjanya, serta memilih brake pad yang tepat, terutama ketika sudah menunjukkan indikasi perlu diganti," tegasnya.

Untuk menciptakan pengereman yang baik, Bosch menawarkan Bosch Reliable Braking Performance. Kinerja kampas rem tersebut diklaim setara dengan produk bawaan pabrik, namun dengan harga yang lebih terjangkau, serta tidak menimbulkan suara dan getaran.

"Bosch Reliable Braking Performance juga memiliki material non asbestos sehingga menghasilkan debu yang lebih sedikit ketika brake pad bergesek dengan brake disc. Paparan asbestos cukup berbahaya bagi kesehatan karena bisa menimbulkan penyakit kanker terutama paru-paru," kata dia.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah mencanangkan aturan terkait bahaya penggunaan asbes yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2001. PP tersebut menyatakan asbestos masuk dalam kategori bahan berbahaya dan beracun.

Kampas rem Bosch Reliable Braking Performance diklaim mampu menawarkan pengalaman mengerem yang stabil dan optimal. Produk tersebut didesain khusus untuk pasar Indonesia, sehingga dapat digunakan pada 85 persen populasi mobil di Indonesia.

"Jadi, jangan sepelekan apabila mobil sudah menunjukkan ciri-ciri untuk mengganti brake pad. Pastikan brake pad yang dipilih tepat, serta lebih ramah lingkungan untuk memberikan performa rem terbaik," pesan Ardi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
BPOM Segel Gudang Penyimpan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.