Perguruan Tinggi Harus Mampu Jadikan Pandemi sebagai Ladang Seluas-luasnya
📅 Sabtu, 21 Agu 2021, 07:30 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupSebenarnya, tidak bisa kita mencetak keinginan-keinginan untuk sesuatu yang nantinya belum ada. Bagaimana kita mencetak atau mengajarnya? Mengajarnya yang benar yaitu ilmu-ilmu fundamentalnya atau konsep dasar dikuatkan dan sikap untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Nantinya, dengan logika dasar, mereka bisa memperkaya diri dengan ilmu-ilmu yang diperlukan. Artinya, jika ada tempat kerja baru, diberi pelatihan sedikit, mereka sudah bisa menyesuaikan diri.
Betul sekali, pekerjaan-pekerjaan lama akan usang dan digantikan dengan pekerjaan-pekerjaan jenis baru. Tapi, pekerjaan baru yang akan datang, baru bisa diprediksi dengan hal-hal dasar, seperti teknologi, matematika, algoritma, dan materi-amteri semacam itu. Nanti setelah mahasiswa lulus, beberapa tahun kemudian muncul pekerjaan baru dan dia siap bertransformasi dari pengetahuan yang dia punya.
Bagaimana perkembangan riset PT ke depan mengingat lembaga riset pemerintah saat ini ada di BRIN dan Kemendikbudristek?
Sebaiknya Anda baca juga:
Target BRIN itu riset-riset yang tidak terlalu di hulu, tapi di tengah atau di hilir. Tujuan BRIN percepatan produk-produk untuk menjadikan PT sebagai substitusi impor. Penelitian hulu mendapat porsi lebih banyak dari Kemendikbudristek. Tapi, kita coba bicara dengan kepala BRIN untuk minta afirmasi bagi PT yang belum kuat untuk memperoleh pendanaan dari BRIN. PT semacam ini, tentu tidak akan bisa bersaing jika dipertandingkan secara bebas. Ini harus ada pola untuk memberi kesempatan PT untuk mendapat dana penelitian.
Penelitian memang tidak semata-mata harus sesuai dengan kemampuan. Bagi dosen pemula, penelitian meningkatkan kemampuan mengajar. Dengan penelitian, ilmu bertambah, kompetensi meningkat, cara mengajar hebat. Idealnya, semua dosen mendapat kesempatan memperoleh dana baik untuk penelitian.
Dengan adanya pandemi Covid-19, menurut Bapak, bagaimana keberlangsungan PT ke depan?
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat ini, kita memasuki tahun kedua pandemi Covid-19. Kita sebagai pengelola PT di Indonesia telah merintis pembelajaran daring maupun blended. Fakta itu membuktikan Covid-19 tidak hanya sebagai disrupsi baru, tapi juga mempercepat disrupsi yang sudah terlebih dulu ada.
Covid-19 memang menyadarkan kita bahwa dunia penuh ketidakpastian dan kompleksitas. Meskipun ada kekacauan luar biasa, Covid-19 membuat kita untuk bertindak responsif, antisipatif, dan bersungguh-sungguh. Kita termotivasi untuk melakukan menyusun pendekatan baru yang bersifat radikal guna beradaptasi dan berkembang.
Dalam tempo singkat, jutaan pendidik hampir di semua jenjang menggunakan teknologi digital. Ini menghadirkan kesempatan dalam menjalankan pendidikan secara inovatif. Crisis is opportunity. Universitas harus membaca krisis ini untuk menjadikannya ladang seluas-luasnya. Jadikan krisis sebagai peluang sebesar-besarnya.
Kebijakan MBKM dapat menjadi akselerator dan katalisator kolaborasi yang sinergis dan strategis antarpemangku kepentingan. Kita sangat berharap pemerintah dapat menaruh prioritas dalam mendorong perguruan tinggi untuk pendidikan riset, inovasi, investasi, dan hilirisasi produk inovasi yang benar-benar memandirikan bangsa Indonesia di bidang-bidang strategis.
Kita juga berharap mahasiswa mendapat kesempatan magang di industri dan industri juga berperan secara memadai di PT, baik dalam SDM maupun inovasi.
Riwayat Hidup*
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!