Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

RI Jangan Terlambat Manfaatkan Energi Baru Terbarukan

1 Senin, 09 Agu 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Jangan Terlambat Manfaatkan Energi Baru Terbarukan RI Jangan Terlambat Manfaatkan Energi Baru Terbarukan Doc: Sumber: Kemen ESDM

» Produsen kendaraan AS dukung Biden bahwa 50 persen produksi mereka pada 2030 adalah mobil listrik.

» Kalau tidak serius mengikuti dinamika pemanfaatan energi global RI bakal tertinggal dan pada saat yang sama kerusakan alam akibat industri ekstraktif kian meluas.

JAKARTA - Pemerintah jangan terlambat memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tengah marak dikembangkan di hampir semua negara. Pentingnya Indonesia bergerak cepat mengembangkan energi ramah lingkungan tersebut karena tren pengembangan ekonomi global semuanya berbasis pada energi hijau.

Amerika Serikat (AS) misalnya seperti disampaikan Presiden Joe Biden pekan lalu saat mengumumkan target baru dari rencana pemerintah memerangi krisis iklim dengan menetapkan kebijakan penjualan kendaraan setengahnya harus menggunakan baterai listrik dan sel bahan bakar listrik atau plug-in hybrid pada 2030.

Biden menandatangani perintah eksekutif di Gedung Putih bersama perwakilan dari produsen otomotif di negara tersebut seperti Ford, GM dan Stellantis, serta anggota Serikat Pekerja Mobil Bersatu. Dalam pernyataan bersama, perusahaan produsen otomotif itu mendukung target baru Biden dengan mengumumkan aspirasi bersama mereka bahwa 40-50 persen mobil mereka yang terjual pada 2030 menjadi kendaraan listrik.

Berbicara dari Gedung Putih pada Kamis sore, Biden mengatakan masa depan manufaktur mobil Amerika adalah listrik dan tidak ada jalan untuk mundur. "Pertanyaannya adalah apakah kita akan memimpin atau tertinggal dalam perlombaan untuk masa depan," kata Biden.

Sepanjang pernyataan Biden menekankan langkah menuju kendaraan listrik harus datang dengan jaminan bahwa kendaraan itu serta baterai yang menggerakkannya harus dibuat di AS oleh anggota serikat pekerja.

Menanggapi komitmen Presiden AS itu, Pakar ekonomi dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Surabaya, Leo Herlambang, mengatakan kalau pemerintah menginginkan perekonomian maju, Indonesia jangan sampai terlambat dan harus mengikuti irama dunia dalam memanfaatkan EBT.

"Semua potensinya kita punya, sinar matahari yang panjang karena bukan negara empat musim, garis pantai yang panjang dengan angin melimpah, bahkan limbah sampah bisa kita manfaatkan," terang Leo.

Tren kebutuhan EBT sendiri tidak terelakkan dan dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial.

"Industri dalam negeri perlu diberi kesempatan, jangan selalu mengandalkan luar negeri, nanti tentu seiring waktu mereka akan memperbaiki kekurangan yang ada. Kalau kita hanya bisa menjadi konsumen terus, kapan kita bisa menjadi negara maju, akan miskin terus, karena kebutuhan sektor energi ini sangat besar nilainya," kata Leo.

Kalau dalam membangun infrastruktur pemerintah mampu, maka untuk sektor energi pun harus dipacu dengan dukungan "political will" yang kuat. Indonesia tambahnya perlu mengikuti tren penggunaan energi global ke energi hijau. Saat ini, negara negara maju semakin konsisten memanfaatkan energi bersih bukan hanya di sektor pembangkit, tetapi transportasi.

Di sisi lain, Indonesia sendiri target penurunan emisi sektor transportasi masih parsial. Apabila Indonesia tidak serius mengikuti dinamika pemanfaatan energi global, RI bakal tertinggal pada saat yang sama kerusakan alam akibat industri ekstraktif kian meluas.

Target Ambisius

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, AS di era Biden menetapkan target penurunan emisi CO2 yang ambisius yaitu pengurangan 50-52 persen emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada 2030 di seluruh sektor ekonomi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Staf PBB Tewas dalam Tahana...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Lagi Lewat Pertamina: Impor Migas Dialihkan ke Lemigas, Bahlil Pastikan Tak Bebani APBN

Tak Lagi Lewat Pertamina: Impor Migas Dialihkan ke Lemigas, Bahlil Pastikan Tak Bebani APBN

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.