Energi Fosil di Kota Saja Mahal Apalagi di Daerah Terpencil
Sabtu, 24 Jul 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiBerdampak Buruk
Secara terpisah, Pengajar dari Universitas Diponegoro Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan bahwa energi fosil seperti batu bara tidak bisa diperbaharui dan dampaknya ke lingkungan juga lebih buruk. "Beberapa proyek dari sisi biaya produksi batu bara dibuat seolah-olah lebih murah dibanding energi hijau, karena ongkos untuk pemulihan lingkungan yang lebih besar ke depan tidak pernah dihitung. Biaya itu pada akhirnya ditanggung dan memberatkan keuangan negara lagi," kata Esther.
Ke depan, paparnya, penggunaan energi hijau harus dikembangkan lebih masif karena lebih ramah lingkungan.
"Pemerintah harus mendorong produksi energi hijau lebih banyak lagi dengan memberi stimulus fiskal bagi produsen maupun konsumen, agar mereka lebih termotivasi memproduksi dan menggunakan energi hijau," pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fahmy Radi, mengatakan penggunaan batu bara kelihatannya murah, tetapi kontribusinya terbesar terhadap pencemaran lingkungan. Selain itu, satu saat akan habis karena tidak bisa diperbarui. "Pengembangan EBT merupakan keniscayaan sebelum energi fosil habis. Kalau habis, akan terus bergantung kita pada impor energi," tegas Fahmy. n ers/E-9
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!