Herpes Zoster Bisa Muncul Saat Imunitas Turun
📅 Minggu, 11 Apr 2021, 20:05 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Salah satu penyakit yang disebabkan infeksi virus yang perlu diwaspadai adalah Herpes Zoster (HZ). Dampak HZ pada kualitas hidup seseorang hampir setara kesulitannya dengan dampak yang ditimbulkan penyakit gagal jantung, diabetes, serangan jantung dan depresi.
HZ juga dikenal sebagai shingles, cacar ular, atau cacar api, yaitu suatu sindrom khas yang disebabkan reaktivasi virus varicella zoster (VZV). Virus yang dapat menular melalui udara ini masuk ke tubuh lewat mukosa saluran nafas atau orofaring.
Saat virus HZ masuk ke dalam tubuh manusia, berdiam di sistem saraf dan menetap di dalamnya. Virus dapat aktif pada waktu yang tak terduga-duga. "Reaktivasi terjadi ketika kekebalan terhadap virus VZV menurun karena penuaan atau imunosupresi," ujar dokter spesialis kulit dan kelamin yang juga CEO Klinik Pramudia dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, dalam Virtual Media Briefing Kamis (8/9).
Cacar air merupakan dampak dari infeksi VZV pertama yang dialami seseorang. Jika terjadi infeksi kedua karena reaktivasi virus yang sama maka baru bisa disebut sebagai penyakit HZ.
Seperti pada penyakit Covid-19, seseorang dapat terjangkit HZ ketika imunitas tubuh sedang lemah. "Begitu juga dengan virus zoster ini. Bila imunitas tubuh kita baik, biasanya akan jarang terkena," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka yang belum pernah menderita cacar air atau tidak pernah menerima vaksin cacar air memiliki risiko tinggi tertular HZ. "Jika terinfeksi seseorang akan terkena cacar air dahulu lalu virus itu bisa sewaktu-waktu dapat berkembang menjadi herpes zoster dengan masa inkubasi sekitar 10-21 hari," kata Anthony.
Mereka yang berisiko terkena HZ adalah yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah (imunokompromais), seperti lansia, penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi organ, penderita kanker, stress psikis, pasien pasca operasi, dan pasien yang minum obat-obat yang dapat menekan sel imun tubuh.
Pada pengobatan kanker misalnya, radiasi atau kemoterapi dapat menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan dapat memicu HZ. "Maka, fokus pencegahan terhadap herpes zoster dengan meningkatkan imunitas tubuh secara umum, serta menghindari kontak terhadap dengan penderitanya," pesannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gejala awal HZ bersifat tidak spesifik. Sebelum muncul tanda nyata pada kulit seperti ruam merah dan lenting atau melepuh berisi air, biasanya hanya berupa rasa lelah, sakit kepala dan lemas atau disebut gejala prodromal yang berlangsung selama 1-5 hari.
Komplikasi
Bagi sebagian besar orang, rasa nyeri akan berkurang seiring menghilangnya ruam, namun bagi beberapa orang, HZ dapat menyebabkan komplikasi seperti rasa nyeri yang menetap yang dikenal dengan istilah Post HerpeticNeuralgia atau Neuralgia Pasca Herpes (NPH).
NPH dapat terjadi pada lebih dari 50 persen pasien berusia lebih dari 60 tahun. Rasa nyeri akibat NPH dapat beragam dan pada umumnya diidentifikasi dengan timbulnya rasa perih, sensasi terbakar, berdenyut-denyut, seperti ditusuk-tusuk atau rasa nyeri yang menyakitkan.
Komplikasi NPH muncul sebagai akibat rusaknya serabut saraf akibat dari aktivitas virus yang berulang. Komplikasi tersebut dapat berakibat kehilangan penglihatan jika HZ terjadi di sekitar mata, masalah neurologis seperti radang otak dan kelumpuhan wajah, dan infeksi kulit berkepanjangan.
Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin. Sedangkan untuk pengobatan, perlu dilakukan secara cepat dan tepat sesuai dengan anjuran dokter. Mereka umumnya melakukan deteksi dini, menilai kondisi pasien secara lengkap, memberi obat anti virus, obat anti nyeri, obat anti depresi/kejang, serta informasi dan edukasi konseling.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!