Memanfaatkan Hasil Riset di Bidang EBT
📅 Rabu, 14 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa
Menyongsong peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, agaknya tak ada lagi yang perlu ditunda untuk segera mewujudkan kemandirian energi, terutama energi listrik, dengan energi baru terbarukan (EBT).
Melihat makin berkurangnya energi berbasis fosil agaknya sejumlah perguruan tinggi dan lembaga litbang dikerahkan oleh kementerian/institusi yang membidangi untuk meneliti, mengembangkan dan menguasai teknologi energi untuk kepentingan pembangunan.
"Penelitian dan pengembangan Ilmu pengetahuan dibidang energi itu diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), biogas, fuelcell, pembangkit listrik tenaga arus laut, gelombang laut, dan tenaga surya," ungkap Agus Puji Prasetyono, staf ahli Menristekdikti bidang Relevansi dan Produktivitas, dalam diskusi tentang Kemandirian Energi Menyongsong HUT RI ke 74, di Jakarta.
Program-program riset hilir, Science Technology Park, Pusat Unggulan Iptek, bahkan pengembangan program studi dan Politeknik dilakukan secara besar-besaran. Tidak sedikit dana pemerintah digunakan untuk mendorong riset dibidang energi ini. Lembaga litbang seperti BPPT, BATAN, LIPI, BIG termasuk Perguruan Tinggi ternama mengerahkan kemampuannya untuk meningkatkan ketersediaan energi.
"Namun faktanya energi ini sebagian besar tidak dapat digunakan sebagai based load sehingga tidak dapat diandalkan untuk membangkitkan industri sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Karena bagaimanapun pada hakekatnya energi adalah darah dari upaya untuk meningkatkan pembangunan negeri, inovasi, daya saing dan kemandirian ekonomi. Karena itu para peneliti terus melakukan upaya untuk mencari solusi terhadap energi dengan kapasitas besar, stabil dan handal," jelasnya.
Tak Bisa Ditunda Lagi
Pada sisi yang berbeda, pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan merupakan kebutuhan nasional yang sudah tidak bisa ditunda lagi. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi membuat permintaan pasokan listrik terus meningkat sehingga sumber daya ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan di seluruh Indonesia perlu dioptimalkan secara lestari.
"Selama ini, biaya produksi listrik PLN mahal karena sebagian besar pembangkitnya berbasis diesel sehingga dibutuhkan impor solar yang banyak dan berkonsekuensi menekan kurs rupiah terhadap dollar AS," ungkap pengamat energi, Marwan Batubara.
Marwan menegaskan, Indonesia harus mewujudkan kemandirian energi dengan mengoptimalkan EBT untuk memenuhi kebutuhan nasional. "Pembangkit listrik dari EBT sangat lestari dan sampai sekarang belum ada dampak negatifnya terhadap lingkungan, terutama hutan," ujarnya.

Ia mencontohkan terkait pembangunan energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang berada di luar kawasan hutan dan berjalan sesuai rekomendasi Pemerintah Indonesia dan standar internasional.
Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu menilai PLTA Batang Toru contoh proyek yang memanfaatkan kekayaan alam secara lestari dengan mengembangkan energi terbarukan.
"Kita bersyukur Indonesia dianugerahi kekayaan alam dengan energi yang begitu luar biasa. PLTA Batang Toru ini salah satu contoh pengelolaan kekayaan alam yang baik," katanya.
Menurutnya, sudah sepantasnya Indonesia meninggalkan pola lama seperti mengandalkan solar dan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Selain berbiaya mahal, lanjutnya, kedua bahan bakar itu menyebabkan kualitas udara tidak sehat. "Cadangan minyak kita tinggal sepuluh tahun lagi. Jadi memang harus beralih ke air atau geothermal," ungkapnya. gma/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!