Standar Produk Pala
📅 Senin, 04 Feb 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiRacun Aflatoksin
Tak ada bisnis yang tak punya persoalan. Walaupun pala digemari dan dibutuhkan, dalam praktiknya juga terjadi penolakan. Misalnya karena tidak memenuhi standar atau terdapat kandungan aflatoksin yang bersifat racun bagi tubuh. Data Rapid Alert System on Food and Feed (RASFF) tahun 2010-2015 memperlihatkan, jumlah kasus penolakan pala akibat kandungan ini mencapai 37 kasus.
Penolakan ini merugikan para petani dan pelaku usaha. Aflatoksin adalah jamur yang tumbuh pada biji pala. Ini disinyalemen karena kondisi lembab sehingga memungkinkan jamur berkembang biak. Penelitian untuk menguji kandungan aflatoksin telah dilakukan beberapa institusi.
Contoh, hasil penelitian Puslitbang BSN menyebutkan, hanya ada 2 dari 20 sampel yang memiliki kandungan aflatoksin sebesar 9,32 ppb dan 21,5 ppb (yang melebihi ambang batas standar). Sebagai informasi, Uni Eropa menetapkan standar maksimum kandungan aflatoksin sebesar 5 ppb.
Bila berkaca dari hasil pengujian dan penelitian tersebut, mayoritas pala tidak bermasalah alias tidak terdapat kandungan aflatoksin. Tapi ini tak bisa serta merta menjadi ukuran. Sebab bisa saja jamur muncul dalam proses pengiriman dalam kontainer. Apalagi waktu yang dibutuhkan hingga ke negara tujuan tak kurang dua pekan lamanya.
Pada poin ini, pola budidaya yang baik, penanganan pascapanen yang andal, serta pemenuhan syarat mutu standar harus dipatuhi, tak boleh dikesampingkan. Tugas pemerintah untuk sosalisasi, penyuluhan, mengedukasi masalah ini. Tapi bagi para pelaku usaha, pala harus menyadari untuk terus menjaga mutu pala.
Dengan begitu, posisi tawar komoditas ini menjadi lebih tinggi. Sebab, bisa saja isu kandungan aflatoksin tersebut bagian dari politik perdagangan untuk menjatuhkan harga pala Indonesia. Sepertinya orang-orang Eropa sudah begitu gandrung akan pala Indonesia yang biasa disebut nutmeg. Istilah ini bahkan digunakan dalam olahraga sepakbola ketika seorang pemain berhasil mengolongi (melewatkan bola di antara kaki) lawan.
Bagi kita, negara yang mempunyai stok pala melimpah, sudah sepatutnya memperhatikan mutu. Dengan begitu, ekspor berjalan lancar dan meminimalkan terulangnya kasus penolakan.
Penulis Peneliti Badan Standardisasi Nasional
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!