Merekonstruksi Kejayaan Kerajaan Pemersatu Nusantara
📅 Selasa, 28 Nov 2017, 01:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Foto-foto: Koran jakarta/ eko S putro
Kita, bangsa Indonesia, benar-benar masih sangat jauh dari pengetahuan mengenai masa lalu kita.
Studi sejarah maupun arkeologi mengenai bagaimana kita hidup dan mencapai kejayaan di masa lalu, memang sudah banyak dikaji sejarawan, terutama asing. Namun jumlah yang tampaknya banyak itu pun ternyata masih sangat jauh dari yang diperlukan untuk menyusun kembali dan mengambil pelajaran dari masa lalu.
Demikian sedikit yang terungkap dalam Seminar Peringatan 724 Tahun Majapahit yang diselenggarakan Mandala Majapahit di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), pekan lalu.
Forum seminar yang dipandu Djoko Dwianto menghadirkan narasumber Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikudumo (YAD) Catrini Pratihari Kubontubuh dan dosen Arkeologi FIB UGM J. Susetyo Edy Yuwono, pada sesi pertama, serta tiga narasumber di sesi kedua, yaitu Fahmi Prihantoro, Tjahjono Prasodjo, keduanya dosen Departemen Arkeologi FIB UGM, dan mantan Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur M Romli. Forum dihadiri arkeolog, sejarawan, praktisi cagar budaya, maupun spiritualis dari seluruh Indonesia.
Pada sesi pertama, Susetyo Edy Yuwono mengatakan betapa masih sangat terbatasnya penelitian mengenai situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur yang menjadi ibu kota Majapahit yang didirikan pada 1293 atau 724 tahun lalu.

Selama ini, menurut Susetyo, penelitian mengenai Majapahit terutama berfokus hanya pada temuan-temuan gerabah yang sangat susah untuk menjangkau pengetahuan mengenai bagaimana kehidupan di era itu diselenggarakan.
Menurutnya, selama ini kita terjebak pada rutinitas penelitian gerabah dan melupakan pendekatan makro seperti kanal-kanal yang ditemukan sejak 1983 oleh seorang peneliti.
"Kita perlu merancang ulangstrategi penelitian arkeologis atas seluruh masa lalu kita. Terutama karena penelitian gerabah sangat terbatas jangkauan penglihatannya dan juga perubahan lanskap Trowulan secara keseluruhan yang menyulitkan untuk merekonstruksi pusat peradaban Majapahit," katanya.
Pada sesi kedua, M Romli mengungkapkan keprihatinan senada. Saat ia menjabat pada 1988, usaha untuk menyelamatkan batu bata berserakan di Trowulan mulai disusun dan ditandai. Namun, awal 2000-an saat ia kembali ke Trowulan, batu bata kuno peninggalan Majapahit mayoritas sudah hilang dan seluruh situsnya tak tersisa lagi.
"Trowulan ini memang sangat sulit karena peninggalannya memakai batu bata dan sekarang juga sudah padat penduduknya. Perlu usaha sangat besar dari negara untuk melacak semuanya atau minimal mempertahankan sisa-sisa peninggalan yang masih ada," katanya.
Sementara Catrini mengatakan memang masalah utama Trowulan sebagai cagar budaya adalah kepemilikan lahan pemerintah yang sempit. Dalam studi dan pelestarian cagar budaya, dunia barat berkonsentrasi pada pengembalian situs secara fisik dan visual secara lengkap karena surplus ekonominya memungkinkan. Sementara di negara berkembang dengan dana terbatas, perlu mengembangkan strategi yang lain.
"Misalnya rekonstruksi nilai. Bagaimana dengan seluruh resource yang ada fokus pada rekonstruksi nilai peninggalan peradaban yang jejaknya ada pada manusianya, ekspresi budayanya, atau melihat pola hubungan dengan daerah lain seperti Trowulan-Bali misalnya," papar Catrini.YK/R-1
Perlindungan Cagar Budaya
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!