Kebohongan Intelektual
📅 Jumat, 13 Okt 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiKebohongan intelektual adalah pembodohan. Untuk bangsa ini, dia bukanlah barang baru. Ia telah lama mendarah daging, terlebih di kalangan intelektual. Kebohongan intelektual yang paling sering terjadi adalah plagiat, termasuk seorang mantan gubernur yang menjadi tersangka KPK. Kasus plagiat lantas menyeret beberapa pihak dan petinggi universitas di Jakarta. Pembodohan intelektual semacam plagiat tidak lagi memandang identitas, jabatan, dan kekuasaan. Ia menyasar mahasiswa, petinggi universitas hingga pejabat negara sekalipun.
Pada prinsipnya, tugas kaum intelektual memberi pengaruh dan kesan perubahan signifikan bagi kelangsungan hidup. Pengabdian tidak hanya pada kepentingan pribadi. Pengabdiannya untuk masyarakat banyak. Noam Chomsky dalam The Responsibility of Intellectuals (1966) mengatakan: intelektual berada dalam posisi mengungkap kebohongan-kebohongan pemerintah, menganalisis tindakan-tindakan sesuai dengan penyebab, motif-motif, serta maksud-maksud tersembunyi.
Chomsky mengingatkan, tanggung jawab intelektual untuk berbicara kebenaran dan menguak kebohongan-kebohongan. Tetapi malah sebaliknya, intelektualitas dipakai sebagai sarana melancarkan kebohongan kepada khalayak.
Sebagaimana Dwi dan kebohongan-kebohongan intelektual yang telah dilakukan kaum intelek, perlu ingat Bentrand Russel. Dia melayangkan sebuah pernyataan provokatif tentang intelektualitas akademik. Ia berani bertaruh, semua pemikiran para intelektual atau pemikir hanya sebuah omong kosong intelektual (intellectual rubbish).
Istilah itu menjelaskan betapa banyak dari konsep-konsep yang sering dianggap intelektual, ternyata memiliki bolong-bolong tak terduga. Di dalamnya ada aib-aib memalukan, sekaligus dusta tak termaafkan. Ini termasuk keyakinan-keyakinan tentang betapa mulianya manusia modern dibanding orang-orang zaman dulu.
Penulis Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!