Bumi Makin Panas, Bangkit! Dorong Gerakan Pulihkan Lingkungan!
📅 Senin, 08 Jun 2026, 09:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: IST
Oleh Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Nasional dan Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Indonesia
Para pakar dan aktivis lingkungan bertahun-tahun telah memperingatkan akan terjadi perubahan iklim dan pemanasan global. Fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan manusia yang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan yang makin masif.
Setiap tahun kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) setiap tanggal 6 Juni. Tahun ini fokus pada Aksi Iklim (Climate Action) yang menyerukan semua orang untuk memulihkan lingkungan.
Tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menyelenggarakan Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 dan peluncuran Gerakan Indonesia ASRI di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur Jakarta Timur, Sabtu (6/6).
Bertema besar “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, kegiatan ini diikuti 15.000 orang, meliputi petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU), pelajar, mahasiswa, pegiat bank sampah, komunitas lingkungan, masyarakat umum, pemerintah daerah, BUMN, corporate, pelapak, pemulung, dan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hadir dalam acara akbar itu diantaranya Menteri LH/Kepala BPLH Jumhur Hidayat, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan sejumlah penting lainnya.
Makna Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik/Rapi, dan Indah) adalah inisiatif nasional yang dicanangkan oleh Presiden untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman di seluruh Indonesia. Program ini berfokus pada dua pilar utama: pengelolaan sampah terpadu dan penataan permukiman. Gerakan ini disampaikan Presiden pada Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, 13 Februari 2026.
Gerakan Pulihkan Lingkungan
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 1982-an muncul gerakan lingkungan yang dipelopori sejumlah orang, sebagian adalah generasi muda di Indonesia. Gerakan lingkungan itu fokus pada pencemaran akibat berbagai limbah yang masuk ke sungai dan laut, sejenis kasus Minamata di Jepang. Kemudian penggunaan pestisida, insektisida, herbisida dan sida lain berlebihan, pembalakan hutan, pertambangan illegal, dan aktivitas ekstraktif yang merusak lingkungan.
Di Swedia, ada seorang anak yang memecah “kebuntuan” jalan akan situasi krisis global yang menciptakan krisis-krisis lain. Namanya Greta Thunberg. Krisis politik dan ekonomi global membuat persoalan perubahan iklim yang dilihat biasa-biasa saja. Meski dilihat Intergovernmental Panel on Climate Change mengingatkan dan mendesak agar melakukan upaya serius menahan bumi di bawah 1,5 derajat Celsius. (Khalisah Khalid, 2026).
Greta menduduki kantor parlemen Swedia, sendirian. Sejak 2018, setiap hari Jumat, dia melakukan aksi mogok sekolah. Aksi protesnya bertagar: “ClimateStrike dan FridaysforFuture”. Pada akhirnya menggerakkan jutaan anak sekolah, menuntut kepada pemimpin negara atau pemerintah di masing-masing negara agar serius menangani perubahan iklim, dan di Indonesia salah satunya. Yang menarik, Greta dan kaum muda yang menggerakkan climate strike tidak lagi menggunakan kata climate change, tetapi climate emergency atau climate crisis (Khalisah Khalid, 2026).
Gerakan lingkungan secara kontemporer lokal, nasional dan global semakin deras dengan terbitnya buku Silent Spring (Rachel Carson, 1962). Carson mencatat produksi pestisida sintesis di sana naik 5 kali lipat pada 1960 dibanding pada 1947. Ia mengukur kadar polutan dan zat kimia di sungai-sungai Alabama, di pesisir pantai Florida, dan mencatat kerusakan dan hilangnya mikroorganisme di dasar-dasar sungai, di dalam tanah yang membuat suhu udara dan ekosistem tak lagi seimbang.
Carson meneliti dampak obat kimia dalam mendongkrak produksi pertanian, perikanan, peternakan terhadap lingkungan. Ia menunjukkan dengan telak kerusakan begitu nyata akibat DDT terhadap hewan air, satwa tanah, bahkan burung-burung di udara. Ia membangun sense of nature menjadi kesadaran politik.
Pada akhirnya semua tragedi itu akan membuat manusia sakit dan merana. “Di masa depan ini akan memungkinkan plasma kuman berubah secara by design,” tulisnya. (www.forestdigest.com, 15/4/2020). Buku ini jadi panduan komunitas gerakan anti pestisida di seluruh dunia, seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Pesticide Action Network (PAN), International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM), dan lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!