Kadarsah Suryadi
📅 Sabtu, 12 Agu 2017, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisKalau program profesi?
Ada juga, yakni Prodi farmasi, di mana lulusannya akan menjadi apoteker. Lalu ada profesi insinyur juga.
Bukannya lulusan ITB di bidang teknik sudah pasti bergelar insinyur?
Menurut undang-undang memang harus ada program profesi insinyur. Maksudnya lulusannya langsung memiliki sertifikasi insinyur. Banyak yang ikut, baik fresh graduate hingga yang sudah bekerja ikut program ini ada juga siswa Rekognisi dari Pengalaman Lampau (RPL). Kami memang ingin mendorong agar Prodi di ITB memiliki sertifikasi internasional, jadi lulusannya juga diakui secara internasional. Karena kami ingin ITB berkualitas internasional.
Tadi dikatakan mahasiswanya 22 ribu lebih, belum lagi dosen, bagaimana mengelola ini?
Ada PTN lain yang mahasiswanya di atas 50 ribu, bahkan hampir 100 ribu. Kami tergolong sedikit. Bahkan pemerintah menginginkan kami menambah. Pemerintah ingin lulusan sarjana teknik kami itu lebih banyak lagi.
Namun menjaga kualitas lulusan adalah keharusan. Jumlah mahasiswa juga harus memperhatikan rasio keberadaan dosen. Sekarang ini rasionya satu dosen berbanding 16 mahasiswa.
Selama ini sebanyak empat ribu mahasiswa baru masuk ITB, padahal saya kira banyak calon mahasiswa yang juga pintar dan layak masuk ITB. Karena saya lihat selisih nilai ujian masuk PTN yang lulus dan tidak lulus itu sangat tipis. Artinya yang tidak diterima pun banyak yang anak pintarnya.
Kalau jumlah dosen nambah, mahasiswa kami juga bisa nambah. Di sisi lain luas kampus ITB hanya 28 hektare, ini juga menjadi pertimbangan. Kami sudah mulai membuka kampus luar, seperti di Jatinangor sudah dimulai sejak tahun 2012. Lalu ada kampus di Cirebon yang tahun ini akan mulai dibangun.
Cirebon ada tiga Prodi, yakni kriya seni rupa, planologi, dan teknik industri. Saat ini sudah angkatan kedua, sebelum gedung jadi, mereka kuliah di Jatinangor dulu, dititipkan.
Master plan sedang dibuat, kami inginnya berkontribusi maksimum terhadap pembangunan negara. Itu artinya perlu tenaga enginer yang banyak. Jika dibandingkan negara lain, jumlah enginer Indonesia masih jauh lebih kecil. Kami ingin lulusan enginer ini memiliki kualitas bagus, diakui internasional. Untuk itu kan perlu perencanaan atau master plan-nya.
Strateginya sepertinya apa?
Kami sudah mendeklarasikan diri sejak Januari 2015 bahwa ITB harus sudah bergerak, dari research university menuju entrepreneurial university. Harus excelent belajar mengajarnya, kualitasnya juga. Penelitiannya harus bagus dan excelent dalam inovasi dan entrepreneur. Sebab, ada tiga hal ini merupakan tiga jenis lulusan dari semua perguruan tinggi mana pun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!