Sejarah Tak Boleh Kusam, Museum Pasir Angin Siap Direvitalisasi
📅 Sabtu, 17 Jan 2026, 11:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Kemenbud
JAKARTA – Revitalisasi Museum Situs Pasir Angin di Kabupaten Bogor menjadi langkah penting agar jejak sejarah tidak perlahan memudar. Situs ini menyimpan banyak cerita masa lalu, namun tanpa perawatan dan pembaruan yang memadai, nilai sejarahnya bisa luput dari perhatian generasi muda.
Dengan revitalisasi, museum tak hanya tampil lebih layak dan nyaman, tetapi juga lebih hidup. Penataan ruang, perbaikan fasilitas, hingga penyajian informasi yang lebih menarik bisa membuat pengunjung betah dan mudah memahami kisah yang tersimpan di balik artefak-artefak Pasir Angin.
Langkah ini juga penting untuk memperluas fungsi museum. Bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi ruang edukasi, wisata budaya, sekaligus sarana belajar yang menyenangkan bagi pelajar dan masyarakat umum.
Singkatnya, revitalisasi Museum Situs Pasir Angin bukan hanya soal membangun ulang bangunan, melainkan menghidupkan kembali ingatan kolektif. Dengan wajah baru, museum diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung dan menjaga sejarah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong revitalisasi Museum Situs Pasir Angin di Kabupaten Bogor agar semakin relevan bagi publik, khususnya generasi muda.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini merupakan satu situs bersejarah yang ke depan kita harapkan dapat kita revitalisasi dan kita lengkapi data-data temuannya, sehingga situs ini bisa semakin menarik bagi generasi muda untuk datang dan belajar tentang sejarah yang ada di Pasir Angin,” kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/1).
Dia menyampaikan hal tersebut saat meninjau Museum Situs Pasir Angin di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung kekayaan tinggalan budaya serta potensi pengembangan situs sebagai ruang pembelajaran sejarah yang lebih terbuka dan kontekstual bagi masyarakat. Dalam kunjungannya, Fadli menegaskan pentingnya nilai sejarah yang terkandung di kawasan Pasir Angin.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Di situs ini kita bisa melihat berbagai lapis kebudayaan, dari era neolitik, kemudian era klasik, sampai ke era kolonial. Banyak temuan yang bisa kita lihat di sini, mulai dari arca hingga artefak lain yang sudah dilengkapi dengan keterangan,” ujar Fadli.
Dirinya menyoroti keberadaan situs Pasir Angin sebagai bagian yang tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah lanskap sejarah yang luas dan tidak terpisahkan satu sama lain.
“Tempat ini sudah diteliti dan dieskavasi sejak tahun 70-an. Ini merupakan satu bagian dari ekosistem yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah sungai Cianten dan Cisadane, karena sungai adalah pusat kehidupan, peradaban, dan perdagangan,” jelasnya.
Salah satu temuan penting dari kawasan ini adalah topeng emas yang kini tersimpan di BRIN Cibinong. Fadli menyebut artefak tersebut memiliki nilai penting dalam memahami kehidupan masa lalu.
“Topeng emas yang ditemukan di sini memberikan gambaran tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat di masa lalu yang ada di sekitar situs Pasir Angin ini,” ungkapnya.
Selain tinggalan prasejarah dan klasik, Fadli juga meninjau Tugu Jepang yang berada di kawasan situs. Tugu tersebut menandai peristiwa sejarah pada abad ke-20, ketika kawasan Pasir Angin menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!