Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Prasasti Poyangan Sebuah Literasi yang Terkubur

📅 Jumat, 08 Mei 2026, 06:53 WIB | Oleh:
Prasasti Poyangan Sebuah Literasi yang Terkubur Doc: Foto : Wikimedia Commons
Ket. Bangunan Induk Candi Ijo (Candi A).

SETIAP susunan andesit di bukit setinggi 410 meter di atas permukaan laut Candi Ijo para arkeolog dan pemburu sejarah, adalah potongan puzzle atau teka-teki dari abad ke-9 yang masih menyimpan banyak misteri, termasuk jejak literasi kuno yang sempat “hilang” dari pandangan publik.

Salah satu alasan kuat mengapa Candi Ijo begitu istimewa dalam peta sejarah Mataram Kuno adalah temuan artefak tulisnya. Di kompleks ini, pernah ditemukan sebuah prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Poyangan. Prasasti ini bukan sekadar guratan tanpa makna; ia adalah dokumen administratif dan keagamaan dari masa silam.

Tulisan di dalamnya menggunakan aksara Jawa Kuno, menceritakan tentang pemberian tanah sima (tanah perdikan atau bebas pajak) untuk pemeliharaan sebuah bangunan suci. Keberadaan prasasti ini menjadi bukti bahwa Bukit Ijo tempat candi itu berada pada masa itu bukan sekadar tempat terpencil, melainkan pusat aktivitas spiritual yang diakui secara resmi oleh penguasa kerajaan.

Berbeda dengan Candi Prambanan yang megah dalam satu kompleks datar, Candi Ijo dibangun dengan sistem berteras total terdapat 11 teras yang meninggi ke arah timur. Secara arkeologis, pola ini merupakan bentuk akulturasi antara kepercayaan Hindu-Siwa dengan budaya asli Nusantara, yakni punden berundak, yang menganggap tempat tinggi sebagai hunian para leluhur dan dewa.

Di teras tertinggi (teras ke-11), berdiri candi utama yang menyimpan rahasia teologis Siwaisme paling fundamental. Di dalam ruang gelap garbhagrha-nya, terdapat sebuah Lingga dan Yoni berukuran raksasa. Lingga ini tidak biasa; pada bagian batunya terdapat ukiran yang menggambarkan sinarnya, menegaskan fungsi candi ini sebagai tempat pemujaan Siwa dalam manifestasinya sebagai cahaya abadi atau Jyotirlinga.

Meski dibangun pada periode yang hampir bersamaan dengan Candi Prambanan yakni sekitar tahun 850 hingga 900 Masehi siapa tokoh kunci di balik pembangunan Candi Ijo tetap menjadi bahan diskusi yang hangat di kalangan sejarawan. Beberapa mengaitkannya dengan Rakai Pikatan atau Rakai Kayuwangi, raja-raja besar dari Dinasti Sanjaya.

Lokasi candi yang berdekatan dengan Candi Ratu Boko (yang memiliki karakter keraton/benteng) menunjukkan bahwa Candi Ijo kemungkinan besar berfungsi sebagai candi kenegaraan atau tempat meditasi bagi para bangsawan kerajaan sebelum mereka melakukan ritual di pusat kota.

Hingga puluhan tahun yang lalu, Candi Ijo hanyalah gundukan batu yang tertutup tanah dan semak belukar. Proses ekskavasi dan rekonstruksi panjang akhirnya berhasil mengembalikan kemegahannya. Namun, “prasasti yang hilang” bukan hanya merujuk pada benda fisik yang kini diamankan di museum, melainkan pada memori kolektif masyarakat tentang betapa majunya peradaban literasi dan arsitektur nenek moyang kita di lereng bukit ini.

Menjelajahi Candi Ijo melalui kacamata arkeologi adalah tentang menghargai bagaimana batu-batu bisu ini sebenarnya berbicara tentang sebuah peradaban yang mampu menyatukan kemegahan struktur dengan ketenangan spiritual di titik tertinggi Yogyakarta. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Danantara Borong Saham Burs...
Ekonomi
BI Tangkap Sinyal Ekspansi ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.