Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perpusnas Manfaatkan Teknologi AI, Literasi Jadi Fondasi Kepemimpinan Nasional

📅 Selasa, 10 Feb 2026, 07:48 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perpusnas Manfaatkan Teknologi AI, Literasi Jadi Fondasi Kepemimpinan Nasional Doc: istimewa
Ket. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) E. Aminudin Aziz saat memberikan ceramah kepada Peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX Tahun 2026 di Lemhannas RI, Senin (9/2)

JAKARTA-Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) E. Aminudin Aziz menegaskan peran strategis literasi dalam membentuk pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif di era perubahan. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan ceramah kepada Peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX Tahun 2026 di Lemhannas RI, Senin (9/2). 

Ia juga membahas isu strategis terkait tantangan literasi di era kecerdasan buatan (AI), kebijakan ISBN (International Standard Book Number), relevansi bahan bacaan bagi anak usia sekolah, hingga isu literasi sejarah dan disinformasi di ruang digital.

Menurut Kepala Perpusnas, rendahnya literasi bukan semata disebabkan oleh minimnya minat baca, melainkan keterbatasan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pembaca. Untuk itu, Perpusnas saat ini mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, mencakup buku, majalah, peta, monograf, audiovisual, buku digital, serta koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa.

 Berbagai layanan digital seperti OPAC, Indonesia OneSearch, e-Resources, dan Khastara juga disediakan untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan.

Pemanfaatan akal imitasi (AI) juga digunakan Perpusnas dalam upaya pelestarian bahasa daerah. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia dan sejumlah di antaranya terancam punah, Perpusnas sejak 2021 mengembangkan program pendokumentasian bahasa daerah berbasis teknologi. “Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujarnya.

Kepala Perpusnas menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari, namun tidak boleh menggantikan proses berpikir manusia. “Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” ucapnya. 

Namun demikian, Aminudin menekankan bahwa penguatan literasi tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi digital. Perpusnas tetap memprioritaskan penyediaan buku cetak, khususnya bagi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. “Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” katanya.

Menangkal disinformasi

Aminudin juga meyakini pentingnya literasi digital untuk menangkal disinformasi. Dengan latar belakang keilmuan linguistik forensik, ia menyebut bahwa konten bermuatan fitnah dan manipulasi dapat diidentifikasi secara ilmiah. “Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak narasi menyesatkan yang berpotensi merusak kohesi sosial dan kebangsaan,” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa literasi tidak dapat diukur dengan satu standar yang seragam. “Indonesia terlalu beragam untuk diukur dengan satu ukuran global. Karena itu, kami mengembangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) agar potret literasi lebih kontekstual dan adil,” pungkasnya.

Data literasi seharusnya digunakan sebagai dasar perbaikan kebijakan, sambungnya, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Sebagai informasi, Perpusnas terus memperkuat literasi melalui penyediaan bahan bacaan yang relevan, pengembangan taman bacaan masyarakat, serta pendistribusian buku ke sekolah dan desa. Perpusnas juga mendorong Relawan Literasi Masyarakat (ReLima), program literasi berbasis partisipasi masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.