Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manfaat Daun Kelor: Dari 'Superfood', Obat Hingga Penangkal Ilmu Hitam

📅 Jumat, 29 Apr 2022, 09:29 WIB | Oleh:
Manfaat Daun Kelor: Dari 'Superfood', Obat Hingga Penangkal Ilmu Hitam Doc: BBC/MARK EVELEIGH

Selama pandemi Covid-19, masyarakat di Bali kembali mengandalkan manfaat daun kelor, tanaman yang memiliki gizi tinggi, obat-obatan, sekaligus jimat.

"Lihatlah betapa gemulai daun-daun itu," kata Dika Nanta sambil menunjuk ke cabang-cabang sebatang pohon berduri yang melambai ditiup angin. "Mereka begitu tipis sehingga pada pandangan pertama sulit untuk membayangkan mengapa orang Bali kadang-kadang menyebut pohon ini 'sapu para dewa'," ucap dia.

Pohon kelor (Moringa oleifera) yang kami lihat memang biasa-biasa saja. Namun demikian, daun kelor pernah diyakini memiliki sifat magis yang begitu kuat sehingga setangkai saja dari "sapu para dewa" ini bisa digunakan untuk mengusir roh-roh jahat dari tempat peristirahatan orang yang sudah meninggal.

Nanta, lulusan Universitas Udayana dengan gelar sarjana arsitektur lanskap, dibesarkan di sebuah desa dekat Ubud (dianggap sebagai jantung spiritual Bali). Ia ingat ketika kanak-kanak, ia makan daun kelor secara teratur, biasanya dalam bentuk sayur.

Baru-baru ini, dalam kapasitas resminya sebagai 'guru botani' di Raffles Bali, ia terpesona oleh ilmu pengetahuan dan kepercayaan tradisional di balik tanaman yang ia sebut sebagai 'pohon kehidupan Bali'.

"Kelor secara tradisional merupakan bagian dari makanan sehari-hari orang Bali," kata dia. "Namun daun ini sudah jarang dimakan jauh sebelum sains modern mengakui manfaat gizinya yang spektakuler, dan ia dikenal di Barat sebagai superfood," imbuh dia.

Menurut studi pada 2013 tentang penggunaan tradisional Moringa oleifera yang diterbitkan dalam International Journal of Phytotherapy Research, daun kelor kering mengandung tujuh kali lipat Vitamin C daripada jeruk, sembilan kali lebih banyak protein daripada yoghurt, 10 kali lebih banyak vitamin A daripada wortel dan 15 kali kalium daripada pisang.

Daun kelor juga diperkirakan mengandung kalsium 17 kali lebih banyak daripada susu dan zat besi 25 kali lebih banyak daripada bayam.

Menurut tradisi, kebanyakan rumah keluarga Bali dilindungi oleh pohon kelor. Ia adalah makanan bergizi, obat, sekaligus jimat.

Dalam puluhan tahun terakhir, daun kelor dianggap sekadar makanan orang miskin, serta bagian dari takhayul mistis zaman dahulu. Namun, selama pandemi Covid-19, ketika tenaga kerja dari industri pariwisata Bali yang kolaps kembali mencari penghidupan dari tanah, orang-orang mulai memanfaatkan lagi tanaman ajaib yang tumbuh seperti gulma ini.

Kelor tumbuh dengan liar di Bali utara dan daunnya adalah bahan masakan yang sangat serbaguna. Dimakan mentah, daun kelor rasanya seperti bayam yang agak pedas, namun juru masak di Bali biasanya merebusnya dan menambahkan berbagai bumbu dan rempah-rempah lokal. Kami mencampurkan daun kelor mentah ke dalam smoothies; memasaknya dalam omelet, sup, rebusan, dan kari; dan memotong-motongnya untuk dijadikan bumbu pedas untuk roti lapis telur mayones dan salad.

"Saya mencoba memasak produk lokal apa pun yang sedang musim dan kelor hampir selalu saya gunakan karena tersedia sepanjang tahun," kata Nafisha Dewi, seorang koki di Rasta Café Medewi di kota pantai barat tempat selancar, Medewi, Bali.

Meskipun Bali didominasi penganut Hindu, sisi barat pulau ini juga memiliki populasi Muslim yang besar. Dewi beragama Hindu sampai dia menikahi suaminya Rasta dan kemudian masuk Islam, tetapi keduanya ingat bahwa daun kelor pernah menjadi hidangan favorit keluarga selama masa kecil mereka.

"Kami menggunakannya tidak hanya sebagai makanan tetapi juga sebagai obat," Dewi menjelaskan. "Kalau kami memar, ibu kami mengobatinya dengan daun kelor yang dicampur dengan garam," ungkap dia. "Benar, kami masih juga menumbuk daun untuk mengobati luka," rasta menyela.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.