Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis Pangan Diperkirakan Makin Terasa pada 2023

📅 Senin, 04 Jul 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Krisis Pangan Diperkirakan Makin Terasa pada 2023 Doc: ANTARA/FAUZAN
Ket. TAUHID AHMAD Direktur Indef - Saya kira semester dua tahun ini sampai tahun depan, krisis pangan justru akan makin terasa.

» Pemerintah seharusnya mewujudkan kedaulatan pangan dari produk-produk lokal.

» Kebijakan pertanian dan perdagangan, jangan sampai terus-menerus merugikan petani.

JAKARTA - Dengan melihat beberapa faktor fundamental yang memicu krisis pangan global maka ancaman krisis pangan tidak hanya berlangsung dalam waktu singkat, tetapi diperkirakan makin terasa pada 2023 mendatang.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengatakan hal-hal fundamental yang menyokong krisis pangan bisa berkepanjangan hingga tahun depan salah satunya karena negara-negara eksportir pangan melarang pengiriman ke negara lain karena lebih mengutamakan kepentingan domestik.

Kedua soal proteksi hukum dari negara-negara sekutu yang melarang ekspor gas dari Russia sangat berdampak karena bahan baku pupuk yaitu gas dipasok dari negara tersebut.

"Kalau produksi pupuk turun karena suplai gas terbatas, produksi pertanian dipastikan menurun karena kurangnya pemupukan. Di situasi seperti sekarang saya kira semester dua tahun ini sampai tahun depan, krisis pangan justru akan makin terasa. Apalagi tantangan Covid-19 membuat Tiongkok melakukan serangkaian lockdown," kata Tauhid.

Untuk menghadapi situasi sulit itu, pemerintah seharusnya menyiapkan strategi yang mendorong masyarakat untuk mengubah atau mengurangi konsumsi dari produk pangan impor menjadi lebih banyak pangan lokal.

Di sisi produksi, pemerintah seharusnya memulai langkah strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan terutama untuk produk-produk yang bisa dikembangkan di dalam negeri.

"Gandum, gula, kedelai, harus diproduksi dalam negeri atau dengan budi daya substitusinya. Nilai impornya besar dan selama ini kita sangat tergantung dengan pasokan impor," kata Tauhid.

Dalam kesempatan terpisah, Ekonom dari Center Of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan memang agak sulit memproyeksikan kapan krisis akan berhenti karena krisis pangan yang terjadi saat ini disebabkan oleh berbagai hal," kata Rendy.

Selain dipicu masalah geopolitik, gangguan produksi juga karena kondisi lingkungan atau cuaca alam yang kurang mendukung di beberapa waktu terakhir.

"Faktor geopolitik tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhir. Selama hal tersebut tidak dapat dipastikan maka potensi kenaikan dan krisis pangan masih akan terus menghantui," kata Randy.

Dalam kondisi seperti ini, hal yang paling penting adalah memastikan pasokan pangan dalam negeri tercukupi, setidaknya sampai akhir tahun 2022. Sebab itu, penting juga memanfaatkan kemampuan produksi pangan dalam negeri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Olahraga
Debut sebagai Nomor Satu, R...
Megapolitan
Pemkot Bogor Tertibkan 516 ...
Advertisement
Daftar Terakhir Perolehan Medali Asian Games 2026: Indonesia Posisi ke-16

Daftar Terakhir Perolehan Medali Asian Games 2026: Indonesia Posisi ke-16

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.