Kolaborasi PTDI dan BRIN Jadi Mesin Baru Penguatan Industri Dirgantara Indonesia
📅 Kamis, 25 Des 2025, 11:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-PTDI
JAKARTA – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan langkah kolaboratif untuk memperkuat fondasi ekosistem industri dirgantara nasional.
Sinergi ini diarahkan tidak hanya pada pengembangan teknologi dan riset terapan, tetapi juga pada penguatan rantai pasok, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta percepatan hilirisasi inovasi agar industri kedirgantaraan Indonesia semakin berdaya saing di tingkat global.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan, dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (25/12), menyampaikan bahwa dukungan riset dari BRIN menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemandirian industri dirgantara, khususnya dalam mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita.
Ia menyatakan sebagai satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kapabilitas lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat, PTDI terus mengembangkan produk berdaya saing global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain N219, pihaknya juga telah berhasil memasarkan pesawat CN235 dan NC212i ke berbagai pasar internasional.
Pada Rabu (24/12/2025), Kepala BRIN Arif Satria melakukan kunjungan ke fasilitas produksi PTDI di Bandung. Dalam kesempatan itu, Arif menekankan bahwa riset di sektor dirgantara harus selaras dengan kebutuhan industri dan tidak berhenti pada tahap laboratorium semata.
"Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional," ujar Arif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Arif, PTDI memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi teknologi tinggi di Indonesia.
Oleh karena itu, pihaknya akan memberikan dukungan mulai dari pendanaan riset, pemanfaatan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset guna mempercepat hilirisasi inovasi.
Salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut adalah peninjauan perkembangan pesawat N219 Nurtanio, yang merupakan hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI.
Pesawat bermesin ganda ini dirancang untuk menjawab tantangan konektivitas di wilayah terpencil Indonesia.
Arif menilai N219 memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, khususnya kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) yang memungkinkan pengoperasian di landasan terbatas.
"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!