Kesadaran Lingkungan Makin Menggembirakan
📅 Minggu, 30 Nov 2025, 13:53 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
PALU – Perkembangan penghormatan pada lingkungan (ekologis) kini makin bagus, termasuk oleh pemerintah daerah. Ini diungkapkan Yayasan Sikola Mombine (SM). Dia mengungkapkan empat daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, telah mengalokasikan anggaran berbasis ekologis sejak tahun 2022.
“Kemajuan daerah tidak boleh dibayar dengan kerusakan alam, bahwa kesejahteraan manusia tidak boleh mengorbankan keberlanjutan ekosistem dan keadilan ekologis harus menjadi bagian dari keadilan sosial,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Sikola Mombine Nur Safitri Lasibani di Palu, Minggu.
Dia menjelaskan daerah itu yakni Kabupaten Tolitoli sejak tahun 2022 telah menerapkan skema transfer anggaran kabupaten berbasis ekologis (TAKE) sebesar Rp3 miliar. Kemudian, Kabupaten Sigi sejak tahun 2021 menerapkan skema TAKE sebesar Rp9,7 miliar.
Selanjutnya, Kabupaten Donggala melalui Peraturan Bupati tentang Desa Berkelanjutan dan telah menerapkan skema TAKE tahun 2025 sebesar Rp1,6 miliar. Terakhir Kota Palu mengeluarkan kebijakan pendanaan lingkungan melalui Alokasi Anggaran Kelurahan berbasis Ekologis (ALAKE) tahun 2022 sebesarRp5,6 miliar.
“Di tengah krisis iklim hari ini, pendanaan ekologis bukan pilihan tambahan melainkan keharusan,” ujarnya. Dia menjelaskan pendanaan ekologis tidak hanya berarti menambah dana, tetapi mengubah cara memandang uang publik sebagai alat pemulihan dan perlindungan bumi. Dia mengajak multipihak untuk membuka ruang kolaborasi melalui dana abadi daerah, dana alokasi khusus lingkungan, mekanisme perdagangan karbon, filantropi hijau, CSR lingkungan, hingga skema blended finance yang menggabungkan sektor publik, swasta, dan masyarakat sipil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahkan kata dia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) telah menyalurkan Rp1,5 miliar untuk program Transfer Anggaran Provinsi berbasis Ekologis (TAPE). Pendanaan dalam bentuk bantuan keuangan itu disalurkan untuk 13 kabupaten/kota di Sulteng. 11 kabupaten dan kota mendapatkan pendanaan sebesar Rp100 juta, dan dua kabupaten mendapatkan pendanaan sebesar Rp200 juta. Kriteria pendanaan berdasarkan angka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) daerah.
Realisasi Anggaran Sulteng Baru 58 Persen
Sementara itu, Realisasi belanja pada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tengah baru mencapai 58,43 persen hingga 14 November 2025. “Realisasi belanja Pemprov Sulteng hingga 14 November 2025 mencapai Rp3,41 triliun dari total APBD Rp5,84 triliun. Persentase penyerapan anggaran pada level 58,43 persen,” kata Kepala Biro Pembangunan Setda Sulteng Abdul Raaf Malik dihubungi di Palu, Minggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyerapan anggaran itu lebih rendah dari target di Bulan November sebesar 80 persen. Walaupun kata dia, perhitungan akhir pada 30 November 2025. Berdasarkan data Biro Pembangunan, realisasi anggaran bergerak stabil sejak awal tahun namun belum mampu menyaingi capaian target pada setiap bulan. Pada Januari, realisasi berada pada posisi 1,2 persen dari target dua persen.
Kesenjangan terus terlihat pada bulan-bulan berikutnya. Pada Februari, realisasi berada pada angka 2,40 persen dari target lima persen, sedangkan Maret mencapai 8,74 persen dari target 12 persen. Memasuki April, realisasi meningkat menjadi 12,23 persen dari target 17 persen. Kinerja tersebut masih belum mampu mendekati rencana yang ditetapkan.
Perkembangan penyerapan anggaran berlanjut pada Mei yang mencatat realisasi 20,46 persen dari target 27 persen, sementara Juni mencapai 31,31 persen dari target 40 persen. Hingga Juli, realisasi naik ke angka 36,80 persen dari target 48 persen. Memasuki Agustus, capaian berada di 44,64 persen dari target 55 persen. September mencapai 49,38 persen dari target 65 persen, dan Oktober mencatat realisasi 53,14 persen dari target 70 persen. Pada November, realisasi menembus 58,43 persen dari target 80 persen.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulteng, Reny A. Lamadjido menyatakan terus memantau perkembangan pelaksanaan APBD kabupaten/kota tahun anggaran 2025. Dia pun optmistis di akhir tahun bisa menyelesaikan serapan belanja dan pendapatan sesuai dengan harapan.
Menurut dia, salah satu penyebab rendahnya serapan anggaran karena beberapa kontraktor yang bermodal besar menolak menerima uang muka, mereka lebih memilih pembayaran penuh setelah proyek fisik selesai dikerjakan. Walau tidak melanggar aturan tapi hal ini berdampak langsung pada lambatnya realisasi belanja modal kabupaten/kota.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!