Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pertanian Harus Bisa Menggantikan Sektor Pertambangan di Kutai Timur

📅 Rabu, 03 Jun 2026, 06:19 WIB | Oleh:
Pertanian Harus Bisa Menggantikan Sektor Pertambangan di Kutai Timur Doc: ist
Ket. sektor pertanian

KUTAI – Ke depan sektor pertanian dalam arti luas, terutama peternakan, harus menjadi bagian dari transformasi ekonomi untuk menggeser sektor pertambangan yang selama ini mendominasi pertumbuhan ekonomi Kutai Timur.

"Kutim memiliki lahan dan sumber daya besar untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan yang diharapkan menjadi daya dorong pertumbuhan ekonomi baru," tandas Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman. Dia mengatakan ini dalam Talkshow di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Kutim, Kalimantan Timur, di Sangatta, Selasa.

Pertanian Kutim berkembang pesat sejak 2023–2026, semenjak ada Ibu Kota Nusantara (IKN) karena memiliki semangat untuk menyuplai kebutuhan pangan, yakni melalui strategi perluasan lahan, pemanfaatan teknologi, dan diversifikasi.

Pada terkini menunjukkan lahan sawah seluas 2.638 hektare (ha) dengan target penambahan 1.106 hektare (ha) dan yang sudah terealisasi 400 hektare, sedangkan rencana jangka panjang 20.000 hektare.

Produksi padi pada 2025 13.200 ton gabah per tahun, setara 7.500 ton beras, mengalami kenaikan 40 dari 2023 . bahkan produktivitasnya pun meningkat, dari 3,9–4 ton per ha menjadi 5–7 ton per ha.

Pemkab juga memiliki program Rehabilitasi Lingkungan dengan memanfaatkan lahan eks tambang untuk tanaman jagung, singkong, dan palawija lain. Saat ini sudah ada 328 ha lahan eks tambang yang produktif menjadi sumber pangan.

Di subsektor peternakan juga terjadi perbaikan dari populasi sekira 13.500 ekor sapi pada 2023 naik menjadi 15.000 ekor pada 2025, kemudian ditarget menjadi 24.000 ekor sapi 2027.

Untuk kambing/ domba stabil di kisaran 8.200 ekor per tahun, kerbau sekira 1.800 ekor yang banyak di rawa-rawa Kecamatan Muara Wahau dan Kaubun, unggas baik ayam maupun itik sebanyak 2,4 juta ekor dengan produksi telur naik 40 persen, hampir cukup untuk konsumsi kabupaten.

Sedangkan program yang dijalankan saat ini antara lain Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), Inseminasi buatan masal dengan target 500 ekor per tahun untuk menghasilkan setidaknya 100 pedet per tahun.

Dalam kesempatan itu, Ardiansyah generasi muda tidak hanya berhenti pada konsep, namun harus berani memulai usaha dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, salah satunya melalui sektor peternakan maupun pertanian dari skala kecil.

"Jangan banyak wacana, karena yang dibutuhkan adalah aksi nyata. Peluang di sektor peternakan dan pertanian sangat terbuka, tinggal siapa yang mau menjadi pelakunya," katanya menyemangati para mahasiswa Stiper Kutim.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.