Garap Serius Sumber-Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi
📅 Senin, 09 Jan 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/MAULANA SURYA
JAKARTA - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund, IMF) mengingatkan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun yang sulit bagi sebagian besar ekonomi dunia. Penyebabnya, tiga mesin pertumbuhan global, yaitu Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Eropa semuanya melambat. Bahkan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperkirakan sepertiga dari ekonomi dunia akan berada dalam resesi.
Namun, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, optimistis perekonomian Indonesia tidak akan masuk dalam jurang resesi sebagaimana sinyalemen IMF. Karena hingga akhir 2022, kondisi perekonomian nasional masih terjaga. Hal itu terefleksi dari realisasi pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III sebesar 5,72 persen dan diharap berlanjut hingga akhir tahun.
Meski demikian, pemerintah jangan terlena dengan keyakinannya. Pemerintah harus bisa mencari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi yang selama ini kurang serius digarap atau bahkan belum sama sekali.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, pada malam Apresiasi Media yang diselenggarakan Kementerian Keuangan di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan mau tidak mau, Indonesia harus bisa menggali sumber-sumber pertumbuhan yang baru.
"Ke depan, harus bisa menciptakan sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi, seperti terus mendorong produk lokal, keberpihakan yang lebih jelas ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar bisa semakin berperan dalam perekonomian nasional, hilirisasi sumber daya alam, dan serius menggarap sumber ekonomi hijau," kata Suahasil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi hal itu, Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa potensi UMKM cukup besar bagi ekonomi, namun hanya 18 persen UMKM yang berorientasi ekspor.
Pemerintah perlu mendorong kualitas UMKM melalui program pendampingan hingga fasilitas pabrik bersama. UMKM yang berorientasi ekspor termasuk ke pasar alternatif perlu diberi bunga yang lebih rendah dan plafon yang tinggi dalam skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) berorientasi ekspor.
Sementara itu pemulihan ekonomi domestik dan pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bisa dimanfaatkan pemerintah dengan menggandeng UMKM untuk lakukan berbagai kegiatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Animo masyarakat sedang tinggi untuk belanja rekreasi. Jadi, momentum kebangkitan UMKM di bidang pariwisata dan industri kreatif jangan dilewatkan," ujar Bhima.
Ekonom Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan khusus untuk UMKM, tahun 2023 ini, jika pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen maka sumber pertumbuhan ekonomi seperti UMKM harus lebih intensif didorong dan diberi pendampingan yang intens.
"Lalu, memperluas ruang pemasaran seperti penggunakan platform digital. Produk-produk UMKM harus menguasai platform digital, jangan produk asing seperti selama ini," katanya.
Selain itu, perlu sisi lobi dan difasilitasi untuk pembelian bahan baku dalam jumlah besar dengan mengorganisir UMKM sejenis," ucap Suhartoko.
Kemudian, pembelian bahan baku dalam jumlah besar untuk menciptakan skala ekonomi yang efisien bagi UMKM.
"Program Bangga Buatan Indonesia harus semakin digencarkan. Dalam jangka menengah dan panjang, peningkatan nilai tambah bagi komoditi primer melalui penguatan industri manufaktur perlu dilakukan," ungkapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!