Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dianggap Ancam Keamanan Nasional, Rusia Siap Blokir WhatsApp Jika Tak Batasi Fitur ini

📅 Rabu, 23 Jul 2025, 16:11 WIB | Oleh:
Dianggap Ancam Keamanan Nasional, Rusia Siap Blokir WhatsApp Jika Tak Batasi Fitur ini Doc: REUTERS/Dado Ruvic

Moskow – Tekanan terhadap aplikasi pesan instan WhatsApp di Rusia kian memuncak. Pejabat tinggi negara itu memperingatkan Meta agar bersiap menghentikan layanan WhatsApp di Rusia, khususnya lantaran fitur barunya, Channels, dinilai mengancam keamanan nasional.

Anton Gorelkin, Wakil Ketua Komite Kebijakan Informasi Duma Negara, menyatakan bahwa WhatsApp bisa diblokir jika tidak membatasi fungsionalitas fitur Channels. Ia menuding fitur ini bisa dimanfaatkan oleh pihak luar untuk menyebarkan propaganda dan disinformasi anti-Rusia. Gorelkin secara terbuka memberi ultimatum melalui kanal Telegram pribadinya.

Laporan independen dari Meduza, mengutip sumber internal Kremlin, menyebutkan bahwa peluang pemblokiran WhatsApp sudah mencapai 99 persen. Hal ini dikarenakan dorongan kuat dari lembaga keamanan (siloviki) yang ingin menekan penyebaran informasi yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Peringatan ini diperkuat oleh pernyataan Reuters mengenai undang-undang baru yang memungkinkan penghapusan akses terhadap aplikasi asing mulai 1 September 2025, kebijakan Presiden Vladimir Putin sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan digital nasional.

Alasan Resmi vs Politik Tersembunyi

Secara terbuka, Kremlin menyebut fitur Channels sebagai potensi celah informasi yang bisa digunakan musuh negara. Namun, menurut laporan Meduza, alasan sebenarnya lebih dalam yakni pembatasan bertujuan untuk mengurangi suara kritis dan potensi mobilisasi opini publik. Sumber menyebut fitur tersebut memberi ruang bagi warga mencari informasi yang tidak sejalan dengan narasi pemerintah.

Risiko Pemblokiran Tinggi, Tetapi WhatsApp Terlalu Populer

WhatsApp digunakan oleh sekitar 97,4 juta orang di Rusia, menjadikannya aplikasi paling populer di negara tersebut. Pemblokiran secara langsung bisa memunculkan ketidakpuasan luas, sesuatu yang ingin diminimalisir pemerintah. Hanya pendekatan legislasi dan suprastruktur seperti aplikasi lokal MAX yang diyakini mampu menggantikan pangsa pasarnya tanpa menimbulkan kegaduhan publik.

Presiden Putin telah mengeluarkan dekret pada Juli 2025 yang memerintahkan pembatasan penggunaan perangkat lunak dari negara yang dianggap “tidak bersahabat” paling lambat 1 September. Perangkat lunak komunikasi jadi target utama. Dalam konteks ini, WhatsApp berada di posisi rawan karena dimiliki oleh Meta meski WhatsApp belum diblokir secara resmi, sementara Facebook dan Instagram sudah dinyatakan organisasi ekstremis dalam hukum Rusia sejak 2022

Ancaman Terhadap Pengguna Rusia

Jika pemblokiran diwujudkan, jutaan pengguna harus menyiapkan rencana cadangan seperti VPN atau migrasi ke aplikasi lokal. Sebagai catatan, Rusia telah meningkatkan kapasitas teknis untuk melakukan pemblokiran trafik VPN dan aplikasi asing melalui Deep Packet Inspection (DPI) yang bersifat menyeluruh. Platform lokal seperti MAX dirancang oleh negara untuk menggantikan fungsi komunikasi sekaligus memperkuat kontrol terhadap data pengguna.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.