Cerita Mudik: Verisa Novri Tempuh Jalur Sunyi Demi Bertemu Orang Tua
📅 Sabtu, 21 Mar 2026, 21:05 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Di saat ribuan orang sibuk berburu tiket pesawat dengan harga yang terus melambung atau terjebak dalam antrean panjang di pelabuhan, Verisa Novri justru memilih jalan yang berbeda. Pria berusia 50 tahun itu mengambil “jalur sunyi” demi satu tujuan sederhana, pulang dan menjemput rindu kepada orang tuanya di Palembang.
Di atas sadel sepeda, dengan perlengkapan sederhana yang terikat di bagasi belakang, jurnalis foto Xinhua, media asal China, ini memulai perjalanan panjang dari Tangerang Selatan menuju Palembang. Tidak ada kemewahan, tidak ada kenyamanan kursi empuk, hanya tekad, tenaga, dan keyakinan pada setiap kayuhan.
Jarak sekitar 400 kilometer ia tempuh bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang sarat makna. Bagi Verisa, mudik bukan hanya soal tiba di kampung halaman, tetapi tentang bagaimana proses menuju ke sana dijalani dengan kesadaran penuh.
“Saya ingin merasakan setiap kilometer perjalanan, menyapa waktu, dan membiarkan diri larut dalam ritme kayuhan yang perlahan namun pasti,” ujar Verisa saat ditemui di bawah kerlip lampu Jembatan Ampera, Palembang, sehari sebelum Lebaran.
Perjalanan itu dimulai pada Selasa pagi, 17 Maret 2026. Dari hiruk-pikuk Tangerang Selatan, Verisa mengayuh menuju Pelabuhan Merak. Ia kemudian menyeberangi Selat Sunda sebelum akhirnya menginjakkan roda di Pulau Sumatera. Sejak saat itu, Jalur Lintas Timur (Jalintim) menjadi jalur utama yang ia lalui.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi sebagian orang, Jalintim hanyalah jalan panjang yang melelahkan. Namun bagi Verisa, jalur tersebut adalah ruang kontemplasi. Di sanalah ia berdialog dengan dirinya sendiri, menguji batas fisik, sekaligus menemukan ketenangan yang sulit didapat di tengah keramaian kota.
Perjalanan ini tentu tidak mudah. Ia harus menghadapi panas terik matahari yang membakar kulit, terpaan angin kencang, serta debu pekat dari truk-truk besar yang melintas tanpa henti. Jalan yang panjang dan monoton kerap menguji fokus dan ketahanan mental.
Di beberapa titik, ia juga harus menaklukkan tanjakan panjang yang membelah hamparan perkebunan sawit. Setiap kayuhan terasa semakin berat, otot kaki menegang, dan napas kian tersengal. Namun justru di situlah ia menemukan esensi perjalanan bahwa setiap rasa lelah memiliki makna.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bersepeda memberikan kepuasan tersendiri dan fleksibilitas waktu. Tantangannya memang cuaca panas, tapi di situlah kesabaran dan konsistensi diuji,” kata dia.
Mudik bersepeda bukan pengalaman pertama bagi Verisa. Ia pernah menempuh rute sebaliknya, dari Palembang ke Tangerang Selatan pada 2018, dan kembali mengulang pengalaman serupa pada tahun-tahun berikutnya. Baginya, sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium untuk memahami perjalanan hidup.
Selain menghindari kemacetan yang kerap terjadi menjelang Lebaran, perjalanan ini juga terbilang hemat. Selama empat hari di perjalanan, Verisa hanya menghabiskan sekitar Rp350.000. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan dasar seperti air minum dan menyewa losmen sederhana untuk beristirahat.
Namun, penghematan bukanlah motivasi utamanya. Yang ia cari adalah kebebasan. Dengan sepeda, ia tidak terikat jadwal, tidak dikejar waktu. Ia bisa berhenti kapan saja saat lelah, saat lapar, atau saat menemukan pemandangan yang menarik untuk diabadikan.
Sebagai seorang jurnalis foto, instingnya selalu aktif. Ia kerap berhenti untuk memotret lanskap pedesaan, jalanan panjang yang membelah hamparan hijau, hingga aktivitas warga yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Setiap potret menjadi bagian dari cerita yang ia kumpulkan.
Demi menjaga keselamatan, Verisa memiliki prinsip untuk hanya bersepeda saat hari masih terang. Ketika senja mulai turun, ia akan mencari tempat singgah seperti masjid, kantor polisi, atau rest area. Di sana, ia beristirahat, membersihkan diri, serta mengisi daya ponsel sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!