Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cerita Mudik: Verisa Novri Tempuh Jalur Sunyi Demi Bertemu Orang Tua

📅 Sabtu, 21 Mar 2026, 21:05 WIB | Oleh:
Cerita Mudik: Verisa Novri Tempuh Jalur Sunyi Demi Bertemu Orang Tua Doc: Antara Foto
Ket. Seorang pemudik Verisa Novri (50) yang menggunakan sepeda dengan rute Tangerang Selatan-Palembang saat dibincangi di Jembatan Ampera, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (20/3) malam.

Di saat ribuan orang sibuk berburu tiket pesawat dengan harga yang terus melambung atau terjebak dalam antrean panjang di pelabuhan, Verisa Novri justru memilih jalan yang berbeda. Pria berusia 50 tahun itu mengambil “jalur sunyi” demi satu tujuan sederhana, pulang dan menjemput rindu kepada orang tuanya di Palembang.

Di atas sadel sepeda, dengan perlengkapan sederhana yang terikat di bagasi belakang, jurnalis foto Xinhua, media asal China, ini memulai perjalanan panjang dari Tangerang Selatan menuju Palembang. Tidak ada kemewahan, tidak ada kenyamanan kursi empuk, hanya tekad, tenaga, dan keyakinan pada setiap kayuhan.

Jarak sekitar 400 kilometer ia tempuh bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang sarat makna. Bagi Verisa, mudik bukan hanya soal tiba di kampung halaman, tetapi tentang bagaimana proses menuju ke sana dijalani dengan kesadaran penuh.

“Saya ingin merasakan setiap kilometer perjalanan, menyapa waktu, dan membiarkan diri larut dalam ritme kayuhan yang perlahan namun pasti,” ujar Verisa saat ditemui di bawah kerlip lampu Jembatan Ampera, Palembang, sehari sebelum Lebaran. 

Perjalanan itu dimulai pada Selasa pagi, 17 Maret 2026. Dari hiruk-pikuk Tangerang Selatan, Verisa mengayuh menuju Pelabuhan Merak. Ia kemudian menyeberangi Selat Sunda sebelum akhirnya menginjakkan roda di Pulau Sumatera. Sejak saat itu, Jalur Lintas Timur (Jalintim) menjadi jalur utama yang ia lalui.

Bagi sebagian orang, Jalintim hanyalah jalan panjang yang melelahkan. Namun bagi Verisa, jalur tersebut adalah ruang kontemplasi. Di sanalah ia berdialog dengan dirinya sendiri, menguji batas fisik, sekaligus menemukan ketenangan yang sulit didapat di tengah keramaian kota.

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Ia harus menghadapi panas terik matahari yang membakar kulit, terpaan angin kencang, serta debu pekat dari truk-truk besar yang melintas tanpa henti. Jalan yang panjang dan monoton kerap menguji fokus dan ketahanan mental.

Di beberapa titik, ia juga harus menaklukkan tanjakan panjang yang membelah hamparan perkebunan sawit. Setiap kayuhan terasa semakin berat, otot kaki menegang, dan napas kian tersengal. Namun justru di situlah ia menemukan esensi perjalanan bahwa setiap rasa lelah memiliki makna.

“Bersepeda memberikan kepuasan tersendiri dan fleksibilitas waktu. Tantangannya memang cuaca panas, tapi di situlah kesabaran dan konsistensi diuji,” kata dia.

Mudik bersepeda bukan pengalaman pertama bagi Verisa. Ia pernah menempuh rute sebaliknya, dari Palembang ke Tangerang Selatan pada 2018, dan kembali mengulang pengalaman serupa pada tahun-tahun berikutnya. Baginya, sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium untuk memahami perjalanan hidup.

Selain menghindari kemacetan yang kerap terjadi menjelang Lebaran, perjalanan ini juga terbilang hemat. Selama empat hari di perjalanan, Verisa hanya menghabiskan sekitar Rp350.000. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan dasar seperti air minum dan menyewa losmen sederhana untuk beristirahat.

Namun, penghematan bukanlah motivasi utamanya. Yang ia cari adalah kebebasan. Dengan sepeda, ia tidak terikat jadwal, tidak dikejar waktu. Ia bisa berhenti kapan saja saat lelah, saat lapar, atau saat menemukan pemandangan yang menarik untuk diabadikan.

Sebagai seorang jurnalis foto, instingnya selalu aktif. Ia kerap berhenti untuk memotret lanskap pedesaan, jalanan panjang yang membelah hamparan hijau, hingga aktivitas warga yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Setiap potret menjadi bagian dari cerita yang ia kumpulkan.

Demi menjaga keselamatan, Verisa memiliki prinsip untuk hanya bersepeda saat hari masih terang. Ketika senja mulai turun, ia akan mencari tempat singgah seperti masjid, kantor polisi, atau rest area. Di sana, ia beristirahat, membersihkan diri, serta mengisi daya ponsel sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

39 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.