BPS NTB: Cabai Rawit dan Emas Sumbang Inflasi Terbesar Februari 2026
📅 Senin, 02 Mar 2026, 15:47 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/HO-Diskominfotik NTB
MATARAM -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat cabai rawit merah dan emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi bulanan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Februari 2026.
"Inflasi bulan ke bulan sebesar 0,84 persen. Angka ini berada di atas inflasi bulanan nasional sebesar 0,68 persen," kata Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Senin.
Wahyudin memaparkan lima komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar di NTB adalah cabai rawit dengan andil 0,35 persen, emas perhiasan 0,21 persen, udang basah 0,08 persen, daging ayam ras 0,07 persen, dan angkutan udara 0,06 persen.
Harga cabai rawit merah naik cukup signifikan menjelang bulan suci Ramadan. Harga rawit sempat menembus Rp150 ribu per kilogram, sehingga memberi tekanan besar terhadap inflasi daerah.
Harga cabai yang melambung disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari petani lokal akibat gagal panen yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pada momen bulan puasa, tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat dan hal ini mendorong naiknya harga bahan pangan di pasaran," ujar Wahyudin.
Lebih lanjut ia menyampaikan lonjakan emas perhiasan yang memicu tingginya angka inflasi daerah dipengaruhi kondisi geopolitik dunia.
Harga emas emas saat ini sudah berada di atas Rp3 juta per gram dan masih berpeluang merangkak naik. Situasi itu tidak terlepas dari konfrontasi di kawasan Timur Tengah, termasuk keterlibatan Amerika Serikat yang mempengaruhi harga emas dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ketika harga emas dunia terpengaruh, maka harga emas di NTB dan Indonesia juga ikut terpengaruh," ucap Wahyudin.
BPS mencatat ada sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi, sehingga laju inflasi tidak meningkat lebih tinggi di Nusa Tenggara Barat.
Komoditas yang mengalami deflasi tersebut adalah ikan teri dengan andil 0,06 persen, bawang merah 0,04 persen, tomat 0,04 persen, bensin 0,03 persen, serta ikan layang/ikan layur 0,02 persen.
"Komoditas ini menekan laju inflasi agar tidak terlalu tinggi," pungkas Wahyudin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!