Resilience Jadi Kunci Produktivitas Pekerja di Tengah Ketidakpastian, Temuan Studi Zurich
Selasa, 03 Nov 2026, 19:45 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Kora Jakarta/Haryo Brono
JAKARTA — Produktivitas tenaga kerja tidak lagi hanya ditentukan oleh keterampilan dan pengalaman. Kemampuan individu untuk menghadapi tekanan, beradaptasi, serta pulih dari berbagai tantangan atau resilience juga berperan penting dalam menjaga kinerja di tengah ketidakpastian.
Studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja kerja baik atau sangat baik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok pekerja dengan tingkat resilience terendah, yang mencapai 44 persen.
Riset tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara resilience dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan. Temuan ini memperlihatkan bahwa kondisi kesejahteraan individu menjadi salah satu faktor penting dalam membangun produktivitas organisasi.
Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peringatan 35 tahun kehadiran Zurich di Indonesia, yang digelar di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah pakar di bidang penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan untuk membahas masa depan kesehatan serta ketangguhan tenaga kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Zurich Indonesia memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026. Inisiatif ini ditujukan untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik pendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan, sekaligus membangun lingkungan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan kebutuhan perlindungan tenaga kerja terus berkembang seiring meningkatnya kompleksitas risiko bisnis dan perubahan dunia kerja.
"Selama 35 tahun hadir di Indonesia, kami melihat bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang. Saat ini, perusahaan tidak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, tetapi juga tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja. Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang," ujar Edhi pada kesempatan tersebut.
Kesejahteraan dan Kinerja Saling Berkaitan
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam konteks dunia kerja, resilience tidak hanya berarti kemampuan seseorang bertahan menghadapi tekanan. Konsep ini juga mencakup kemampuan untuk beradaptasi, memulihkan diri, dan tetap bekerja secara optimal ketika menghadapi perubahan.
Studi The Resilient Workforce yang dikembangkan Zurich bersama para akademisi menemukan bahwa ketahanan individu dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan. Faktor tersebut meliputi kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Profesor Ekonomi dan Ilmu Perilaku di Saïd Business School, University of Oxford, sekaligus Direktur Wellbeing Research Centre, Prof. Jan-Emmanuel De Neve, mengatakan kesejahteraan pekerja memiliki hubungan erat dengan produktivitas. Ia turut mengembangkan riset tersebut bersama Zurich.
Menurut De Neve, produktivitas selama ini kerap dikaitkan dengan keterampilan, pengalaman, dan insentif. Namun, hasil penelitian menunjukkan pekerja dengan tingkat resilience lebih tinggi cenderung memiliki kinerja lebih baik.
Dukungan terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital dinilai dapat membantu individu menghadapi perubahan sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap organisasi.
Kesehatan Jangka Panjang Turut Menentukan Ketahanan Pekerja
Selain kesejahteraan sehari-hari, kondisi kesehatan jangka panjang juga menjadi perhatian dalam membangun tenaga kerja yang tangguh. Peningkatan angka harapan hidup membuat semakin banyak orang menjalani kehidupan lebih lama dengan penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta biaya kesehatan yang harus ditanggung individu maupun perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!