BNPB Ajak Pemda dan Masyarakat Gotong Royong Antisipasi Bencana Hidrometeorologi
Selasa, 03 Nov 2026, 20:55 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/HO-BWS Sumatera I
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi basah seiring masuknya musim penghujan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan di Jakarta, Selasa (3/11), menyatakan bahwa aksi gotong royong tersebut diwujudkan melalui kegiatan nyata seperti membersihkan saluran air, sepadan sungai, waduk, tanggul atau areal yang menjadi aliran air secara bersama-sama guna mencegah terjadinya penyumbatan yang kerap memicu genangan.
Ajakan memperkuat mitigasi berbasis gotong royong ini kian dipertegas melalui Surat Edaran Kepala BNPB Nomor 4/2026 yang ditandatangani oleh Kepala BNPB Kristomei Sianturi pada 30 Oktober 2026 merespons masuknya periode peralihan musim yang memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
"Tidak henti-hentinya kami mengingatkan kesiapsiagaan, mengajak seluruh lapisan masyarakat bersiap menyambut musim peralihan dari kemarau ke musim hujan ini," kata Berton.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mencatat sampai hari ini, 3 November, total ada 2.285 kejadian bencana alam dan tujuh di antaranya adalah kejadian baru yang berupa bencana hidrometeorologi basah (banjir, tanah longsor dan angin kencang) termasuk di Lumajang Jawa Timur dan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara yang merenggut korban jiwa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Berton, peristiwa tersebut mesti jadi pelajaran bagi semua pihak tentang pentingnya kesiapsiagaan, apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menerbitkan peringatan dini hujan intensitas deras yang potensi bencana hidrometeorologi.
BMKG dalam hal ini melaporkan pada 4 November potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat perlu diwaspadai di sejumlah provinsi, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Selain mengandalkan gotong royong dalam membersihkan saluran air, BNPB menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir harus dilengkapi dengan langkah-langkah teknis lainnya seperti melakukan susur sungai di bawah supervisi petugas kompeten.
"Masyarakat juga diimbau untuk proaktif mengidentifikasi jalur evakuasi yang aman di lingkungan masing-masing, menyiapkan tas siaga bencana untuk kebutuhan minimal tiga hari, serta rutin memeriksa ketahanan infrastruktur pendukung termasuk bendungan," kata dia.
Dia menambahkan, di samping ancaman banjir, kesiapsiagaan kolektif juga diarahkan untuk mengantisipasi potensi angin kencang melalui penguatan struktur atap rumah, pemangkasan ranting pohon rimbun, serta menghindari berlindung di dekat objek rawan roboh seperti papan reklame.
Sementara itu, untuk mengantisipasi bahaya tanah longsor, warga diminta segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi hujan lebat berdurasi lama, peka mengenali tanda-tanda retakan pada tanah atau lantai, serta terus memantau informasi cuaca resmi demi keselamatan bersama.
"Masyarakat dapat mengakses kanal resmi BNPB serta BPBD setempat untuk memantau perkembangan informasi kebencanaan, atau melaporkan kejadian darurat melalui layanan nomor 117," kata Berton.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!