Resilience Jadi Kunci Produktivitas Pekerja di Tengah Ketidakpastian, Temuan Studi Zurich
Selasa, 03 Nov 2026, 19:45 WIB | Oleh: Haryo BronoDirektur Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Profesor Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, menilai resilience perlu dibangun melalui kesadaran menjaga kesehatan sejak seseorang masih dalam kondisi sehat.
Ia mencontohkan penerapan perilaku CERDIK sebagai salah satu langkah menjaga kesehatan. CERDIK merupakan singkatan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.
Namun, menurut Tjandra, kebiasaan tersebut perlu didukung literasi kesehatan, lingkungan yang kondusif, serta akses terhadap layanan kesehatan bermutu agar masyarakat dapat mempertahankan kesehatan dan produktivitas dalam jangka panjang.
Kesehatan Mental Berpengaruh Terhadap Kondisi Fisik
Sebaiknya Anda baca juga:
Aspek lain yang turut menentukan ketahanan pekerja adalah kesehatan mental. Tekanan psikologis yang tidak dikelola dapat berdampak pada kondisi fisik, kesejahteraan, dan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari.
CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyoroti hubungan antara kesehatan mental dan fisik. Ia menyebut konsultasi terkait gangguan kecemasan atau anxiety di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Jonathan, kesadaran menjaga kesehatan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menilai perhatian terhadap kesehatan merupakan investasi untuk menjaga kualitas hidup di masa depan. Karena itu, kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Zurich menilai pembangunan kesejahteraan tenaga kerja membutuhkan kolaborasi antara pemberi kerja, penyedia layanan kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Perusahaan juga didorong untuk tidak memandang program wellbeing hanya sebagai fasilitas tambahan bagi karyawan.
Edhi mengatakan perusahaan yang mampu berkembang di tengah perubahan adalah perusahaan yang turut memberdayakan orang-orang di balik kegiatan bisnisnya.
Ketika karyawan memiliki kondisi kesehatan yang baik, merasa terlindungi, dan siap menghadapi perubahan, perusahaan dinilai memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!