Khanduri Blang Tetap Lestari, Tradisi Adat Petani Abdya Sambut Musim Tanam Padi.
Selasa, 03 Nov 2026, 21:27 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Petani Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh masih mempertahankan tradisi adat kenduri turun ke sawah (khanduri blang) untuk menyambut musim tanam padi rendengan 2026.
"Sebelum sawah kami olah atau dibajak, terlebih dahulu kami melakukan kenduri dan berdoa bersama," kata Keujruen Blang Roh (Ketua Adat Sawah) Desa Ie Lhob, Darwis, di Abdya, Selasa.
Pantauan ANTARA, ritual sakral ini dipusatkan di hulu sumber mata air alami yang berada di kawasan pemukiman yang berjarak sekitar 500 meter ke arah pegunungan dari perlintasan jalan nasional.
Disamping menyambut musim tanam padi baik gadu maupun rendengan, petani setempat selalu menggelar kenduri turun ke sawah, kegiatan ini sebagai upaya pelestarian tradisi leluhur yang dilakukan secara turun temurun.
Darwis menjelaskan, ritual keagamaan dan adat ini merupakan agenda yang selalu dilaksanakan sebelum para petani menyentuh tanah persawahan mereka dengan alat bajak. Karena itu, kenduri ini juga diisi dengan doa bersama.
"Kami memohon kepada Allah SWT agar proses menanam hingga panen nanti berjalan lancar, hasil tani melimpah, dan membawa berkah bagi ekonomi keluarga," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan lokasi di pusat pancaran mata air arah pegunungan tersebut memiliki nilai filosofis mendalam bagi ketahanan pangan warga lokal.
"Sumber mata air itu menjadi urat nadi pertanian desa setempat yang tidak pernah kering meskipun wilayah saat dilanda musim kemarau panjang," kata Darwis.
Sementara itu, Keujruen Blang Tengku Lupung Desa Ie Lhob, Basri, mengungkapkan bahwa kenduri kali ini bertepatan dengan momentum keberhasilan panen sebelumnya.
Ia menyebutkan, lahan persawahan di desa tersebut serta desa-desa lainnya di Kabupaten Abdya baru menyelesaikan panen gadu dengan hasil memuaskan.
"Ini kami baru saja selesai panen gadu dengan hasil yang diperoleh sangat memuaskan. Sekarang kami menggelar kenduri lagi agar petani segera mengolah kembali sawah mereka untuk ditanam musim rendengan," katanya.
Ia menambahkan, percepatan olah tanah ini penting dilakukan agar target masa tanam serentak dapat tercapai.
Menurutnya, tradisi tani di wilayah Kecamatan Tangan-Tangan secara turun-temurun memang terbagi dalam dua fase ritual penting demi menjaga keseimbangan alam dan spiritualitas bertani.
"Ada dua kali kenduri yang rutin kami lakukan dari dahulu. Pertama, di pusat sumber mata air sebelum tanah mulai dibuka. Kedua, nanti saat tanaman padi mulai mengeluarkan malai (berbuah). Kendurinya kami laksanakan di kawasan Mon Tengku Lupung," demikian Basri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!