BMKG: Cuaca Panas Indonesia Oktober 2026 Pecahkan Rekor Anomali
Rabu, 28 Okt 2026, 15:00 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Jakarta Smart City
JAKARTA - BMKG mengungkapkan, Oktober 2026 mencatat anomali suhu udara tertinggi secara nasional. Temperatur rata-rata Indonesia pada periode tersebut, tercatat 1,12 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi normal berdasarkan acuan klimatologi 1991–2020.
BMKG mengatakan peningkatan suhu tersebut menunjukkan kondisi udara di Indonesia lebih panas dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Meski demikian, rekor anomali suhu nasional tidak dapat langsung diartikan sebagai rekor suhu terpanas sepanjang sejarah di Jakarta.
"Berdasarkan catatan BMKG, kondisi suhu udara pada Oktober 2026 memang lebih panas dibandingkan dengan kondisi normalnya. Secara nasional, Oktober 2026 tercatat sebagai bulan Oktober dengan anomali suhu tertinggi, sebesar +1,12°C dibandingkan rata-rata normal periode 1991-2020 berkisar 27°C," kata Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim BMKG, Kadarsah, Rabu (28/10).
Kadarsah menjelaskan peningkatan suhu di suatu wilayah harus dilihat berdasarkan data historis dari masing-masing stasiun pengamatan. Sebab, setiap lokasi memiliki karakteristik iklim dan catatan anomali suhu yang tidak selalu sama.
"Namun, untuk wilayah Jakarta, perlu dibedakan. Antara kondisi suhu yang lebih panas dari biasanya dengan rekor suhu terpanas yang pernah tercatat," ucap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai gambaran, Stasiun Meteorologi Kemayoran mencatat, anomali suhu tertinggi Oktober 2024, yakni 1,25 derajat Celsius di atas kondisi normal. Suhu normal Oktober di lokasi pengamatan tersebut, tercatat sebesar 28,7 derajat Celsius.
Sementara itu, Stasiun Meteorologi Tanjung Priok memiliki catatan, anomali suhu tertinggi pada Januari 2003. Saat itu, penyimpangan suhu mencapai 1,83 derajat Celsius dibandingkan rata-rata normal Januari sebesar 26,5 derajat Celsius.
"BMKG dapat menyampaikan bahwa Oktober 2026 mencatat rekor anomali suhu tertinggi secara nasional untuk bulan Oktober. Artinya, secara umum Indonesia mengalami kondisi suhu yang lebih panas dari biasanya," ujar dia
Sebaiknya Anda baca juga:
"Namun, hal tersebut tidak serta-merta berarti Oktober 2026 menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah di Jakarta. arena catatan suhu tertinggi di setiap stasiun pengamatan dapat berbeda," imbuh dia.
BMKG mengidentifikasi sedikitnya tiga faktor yang berkontribusi terhadap tingginya suhu udara di Jakarta selama Oktober 2026. Ketiganya meliputi posisi semu Matahari, kondisi atmosfer, serta karakteristik lingkungan perkotaan yang memengaruhi penyerapan panas.
Faktor pertama, berkaitan dengan pergerakan semu tahunan Matahari yang pada periode ini berada di sekitar wilayah selatan ekuator. Posisi tersebut, menyebabkan wilayah Pulau Jawa menerima penyinaran Matahari dengan sudut yang relatif tegak.
"Gerak semu tahunan matahari yang melintasi selatan ekuator membuat sudut penyinaran jatuh sangat tegak lurus di atas wilayah Jawa. Sehingga intensitas radiasi termal mencapai puncaknya," kata dia.
Faktor berikutnya, adalah kondisi atmosfer, terutama berkurangnya pembentukan awan konvektif pada siang hari. Minimnya tutupan awan membuat radiasi Matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi dan meningkatkan suhu udara.
Selain faktor astronomis dan atmosfer, BMKG menyoroti, pengaruh fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Fenomena ini, terjadi ketika kawasan perkotaan menyimpan lebih banyak panas akibat dominasi bangunan, jalan beraspal, dan aktivitas manusia.
Material seperti beton dan aspal dapat menyerap panas pada siang hari sebelum melepaskannya secara perlahan ketika malam tiba. Kondisi tersebut, semakin diperkuat oleh emisi kendaraan bermotor serta keterbatasan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.
Di tengah kondisi suhu yang lebih panas dari biasanya, BMKG memperkirakan temperatur udara Jakarta pada November 2026 tidak akan setinggi Oktober. Prakiraan tersebut memberikan gambaran adanya perubahan kondisi suhu setelah periode panas pada bulan sebelumnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!