Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda: Mengenang, Menjaga, dan Mewujudkan Makna Sumpah Pemuda.

28 Rabu, 28 Okt 2026, 16:58 WIB | Oleh:
Peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda: Mengenang, Menjaga, dan Mewujudkan Makna Sumpah Pemuda. Peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda: Mengenang, Menjaga, dan Mewujudkan Makna Sumpah Pemuda. Doc: Koran Jakarta/M.Fachri
Ket. Dr. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H.

Pendahuluan: Sumpah Pemuda dan Cita-Cita Indonesia

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan salah satu tonggak terpenting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada hari itu, para pemuda dari berbagai daerah, suku, agama, bahasa, dan latar belakang sosial menyatakan tekad bersama untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia merupakan pernyataan kesadaran kebangsaan, keberanian melampaui perbedaan, sekaligus komitmen moral untuk membangun masa depan bersama.

Para pemuda ketika itu memahami bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak mungkin berhasil apabila rakyat Nusantara terus terpecah oleh kepentingan kedaerahan, kesukuan, dan golongan. Mereka menyadari bahwa persatuan merupakan kekuatan utama untuk memperoleh kemerdekaan.

Kini, 98 tahun setelah ikrar bersejarah tersebut, Indonesia telah menjadi negara merdeka, memiliki pemerintahan sendiri, dan berperan dalam pergaulan internasional. Namun, perjalanan mewujudkan cita-cita kemerdekaan belum selesai.

Kemiskinan, ketimpangan sosial, pengangguran, kesenjangan pendidikan, korupsi, dan ketidakmerataan pembangunan masih menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dengan upacara, pidato, dan mengenang sejarah. Peringatan ini harus menjadi momentum untuk mengenang nilai perjuangannya, menjaga persatuan bangsa, dan mewujudkan cita-citanya dalam kehidupan nyata. 

Mengenang: Keberanian Pemuda Melampaui Perbedaan

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia mempertemukan berbagai organisasi kepemudaan, antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan organisasi pemuda lainnya.
Mereka datang membawa identitas daerah masing-masing, tetapi pulang dengan kesadaran kebangsaan yang lebih besar: Indonesia.

Di tengah penjajahan, keterbatasan komunikasi, dan kuatnya sekat-sekat sosial, para pemuda berhasil membangun kesepakatan mengenai identitas bersama. Inilah kekuatan moral Sumpah Pemuda. Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, persatuan dibangun melalui pengakuan bahwa keberagaman merupakan kenyataan sekaligus kekayaan bangsa.

Semangat tersebut kemudian menemukan bentuk politiknya dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Generasi sekarang perlu memahami bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah, melainkan hasil perjuangan panjang berbagai kekuatan bangsa, termasuk gerakan pemuda, kaum terpelajar, tokoh agama, ulama, santri, buruh, petani, perempuan, dan seluruh rakyat.

Mengenang Sumpah Pemuda berarti menghormati pengorbanan mereka sekaligus meneruskan tanggung jawab sejarah yang diwariskan.

Menjaga: Persatuan dalam Keberagaman

Tantangan persatuan Indonesia pada abad ke-21 berbeda dengan masa penjajahan.Jika dahulu ancaman utama datang dari kekuasaan kolonial, sekarang persatuan bangsa menghadapi tantangan berupa polarisasi politik, intoleransi, kesenjangan ekonomi, penyebaran disinformasi, serta berbagai bentuk diskriminasi sosial.

Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan masyarakat terhubung dengan cepat. Namun, teknologi yang sama juga dapat mempercepat penyebaran kebencian, prasangka, dan pertentangan antarkelompok.

Karena itu, menjaga Sumpah Pemuda berarti merawat kebangsaan dengan semangat saling menghormati. Perbedaan agama, suku, pilihan politik, pandangan ideologi, dan latar belakang sosial tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan martabat sesama warga negara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Kemenhub akan Inspeksi 23 R...

Menhut Ungkap Situasi Karhutla Berangsur Membaik

46 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menhut Ungkap Situasi Karhu...
Nasional
Kemenhub Usulkan WFA untuk ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi  Triliunan Rupiah

RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi Triliunan Rupiah

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.