Mentan: Pemerintah Jamin Serapan Jagung Petani
Rabu, 28 Okt 2026, 14:42 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Bapanas
JAKARTA - Pemerintah memperkuat kepastian penyerapan jagung hasil panen petani dengan menyiapkan Perum Bulog sebagai pembeli siaga. Lembaga pangan tersebut dapat menyerap jagung pipilan kering berkadar air 18–20 persen sesuai ketentuan pengadaan.
Pemerintah menyampaikan kebijakan strategis penyerapan komoditas jagung dalam negeri di Jakarta pada Selasa (27/10). Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 menetapkan target pengadaan jagung domestik minimal sebanyak satu juta ton.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memberikan instruksi kepada jajaran Bulog. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung berkadar air 18–20 persen ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram di tingkat petani.
“Pak Dirut Bulog, sampaikan seluruh Indonesia jangan sampai dia (pimpinan wilayah) tidak paham, 14 (persen kadar airnya) ditolak, 20 (persen ambil). Tolong yang 100 ini titik-titik strategis atur. Jadi yang (kadar airnya) 20 persen diterima,” ucap Amran.
Amran menyatakan bahwa kepastian penyerapan hasil panen menjadi bagian penting dari sistem rantai pasok terintegrasi. Petani merencanakan produksi jagung melalui koperasi agar pasokan pakan dapat terserap secara optimal oleh peternak.
“Makanya kita closed system, perbaiki dulu. Mudah-mudahan satu tahun, dua tahun tidak ada lagi terjadi keluhan. Jadi kami mengatur dari hulu ke hilir,” ujar Amran.
Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas areal budi daya demi mencukupi ketersediaan cadangan pakan ternak nasional. Pengadaan gudang Bulog menetapkan batas kadar air 14 persen dan aflatoksin 50 part per billion (ppb).
“Dari hulu, antara peternak dengan petani jagung, ini satu kesatuan. Ini sistem baru yang kita bangun, closed system. Dia menyatu dalam satu koperasi, kemudian kita hitung lagi kebutuhannya berapa. Kebutuhannya, yaitu 1,8 juta ton. Untuk 1,8 juta ton, kita tanamkan jagung yang lebih, yaitu 300 ribu hektare. Dikali 7 ton, itu sama dengan 2,1 juta ton produksinya,” kata Amran.
Amran menyiapkan peran strategis badan logistik negara sebagai penyangga pasokan pangan hewani secara berkesinambungan di daerah. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dirancang untuk melindungi stabilitas daya beli peternak unggas kecil.
“Nah, caranya adalah, kalau peternakannya sudah cukup, ada jagung berlebih, ini tidak boleh masuk pihak lain, di wilayah ini, 300 ribu hektare. Kalau berlebih, 300 ribu ton-an, ini menjadi off-taker, Bulog yang mengambil. Tetapi, peternak yang menyetor ke Bulog ini seperti resi gudang, ini nanti yang menebus, membeli kembali dengan subsidi pemerintah, SPHP,” ucap Amran.
Ia pun mengatur mekanisme lalu lintas distribusi komoditas jagung sesuai dengan tingkat kebutuhan peternak di setiap daerah. Pengaturan distribusi antardaerah bertujuan menjaga kepastian penjualan hasil panen petani dan menjamin pasokan bagi peternak.
“Tetapi, selama September, Oktober, November, Desember. Tetapi, kalau sudah lebih, minta persetujuan mereka untuk diserahkan ke peternak lain, mana kalau ada kekurangan. Jadi ini clear,” kata Amran.
Realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 216,8 ribu ton bagi 11.646 peternak di 29 provinsi. Total alokasi program tahun 2026 meningkat hampir delapan kali lipat dibanding realisasi 2025 sebesar 51,2 ribu ton. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!