Hasil Diplomasi Indonesia Harus Sampai di Meja Makan Rakyat
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiIndonesia yang kuat dan tangguh, dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perdamaian dan kesejahteraan di luar batas wilayahnya. Indonesia yang tangguh akan turut mewujudkan dunia yang lebih tangguh. Dunia yang tangguh, pada gilirannya, akan menjadikan Indonesia semakin kuat.
Semangat inilah yang kami bawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami hadir bukan sekadar untuk berpartisipasi, melainkan untuk membawa gagasan, mengerahkan sumber daya manusia dan menawarkan solusi.
Indonesia juga tidak akan mengikatkan diri pada aliansi atau blok persekutuan manapun. Indonesia memilih prinsip dan dengan cara itulah, Indonesia akan terus membangun reputasinya sebagai pembangun jembatan (bridge builder) dan pencipta perdamaian (peace maker) bagi masyarakat dunia.
Kunjungan Sekjen PBB, Antonio Guterres, ke Indonesia baru-baru ini adalah bentuk penghormatan sang Sekjen PBB kepada Indonesia serta perannya di tingkat global.
Sekjen Guterres mengaku kunjungan ini dilakukannya sebagai bentuk apresiasi atas komitmen kuat Indonesia terhadap kerja sama multilateral yang senantiasa ditunjukkan selama dia menjabat sebagai Sekjen PBB.
Kunjungan tersebut juga merupakan bentuk pengakuan atas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta peran aktif Indonesia di tingkat internasional.
Tanggapan Anda mengenai terpilihnya BPK jadi anggota United Nations Board of Auditors (UN BoA) dan pencalonan menkes jadi Dirjen WHO?
Keterpilihan BPK sebagai anggota United Nations Board of Auditors (UN BoA) untuk pertama kalinya merupakan capaian diplomasi Indonesia. Capaian ini akan membuka pintu Indonesia untuk membentuk tata kelola PBB dari dalam. Ini adalah kontribusi Indonesia bagi credibility of the multilateral system.
Sementara itu pencalonan menteri kesehatan kita sebagai Direktur Jenderal WHO adalah demi menciptakan arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang dan merupakan bagian dari upaya Indonesia mendorong tata kelola global yang lebih baik.
Sebagai pembentuk jembatan, penjaga perdamaian, dan penghubung berbagai pihak, peran-peran ini bukan sekadar gelar. Semuanya merupakan tanggung jawab untuk membangun kepercayaan dan mewujudkan sistem multilateral yang lebih kuat dan efektif.
Saat ini sistem multilateral sendiri belum terlalu berpihak pada negara-negara berkembang. Karena itu, Indonesia terus mendorong penguatan sistem multilateralisme melalui langkah reformasi. Dalam hal tersebut, Indonesia tidak akan hanya menyuarakan aspirasi atau mengetuk pintu dari luar, tetapi juga akan berupaya memperbaiki dari dalam. Indonesia yang kuat di dalam, dipercaya di kawasan, dan didengar di dunia.
Sedangkan pencalonan Menkes Budi untuk memimpin WHO merupakan penegasan bahwa Indonesia hendak berperan lewat tindakan nyata bagi perbaikan tata kelola kesehatan dunia. Pada akhirnya, Indonesia akan terus mendorong PBB dan lembaga multilateral lainnya, seperti WHO, agar semakin efektif, efisien, dan representatif sesuai aspirasi masyarakat global, terlebih, dengan sistem multilateral dan hukum internasional yang menjadi keniscayaan dunia saat ini, hukum dan kesepakatan internasional harus berlaku bagi semua pihak, bukan hanya menguntungkan segelintir negara saja.
Menurut penilaian Anda, seberapa penting posisi Indonesia saat ini dalam dinamika politik internasional?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!