Saat Masyarakat Agraris di Wonogiri Bangkit Atasi Kekeringan
📅 Selasa, 13 Okt 2026, 15:37 WIB | Oleh: SujarPasokan air berkala ini menjadi sangat vital mengingat karakteristik lahan pertanian di lereng perbukitan Doho berkontur miring (siring), sehingga air siraman cepat meresap dan hilang jika tidak dialirkan secara cermat, termasuk ke tanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah, dan ubi-ubian yang juga dibudidayaan warga.
Manajemen air berkeadilan
Kunci keberhasilan distribusi air dari Embung Doho bertumpu pada keteguhan kearifan lokal yang dijalankan oleh Legiman, seorang subak atau penata aliran air yang dipercaya oleh warga desa.
Selama musim kemarau melanda, seluruh aktivitas Legiman dihabiskan di hamparan sawah. Dari total 21 hektare lahan produktif tersebut, ia membaginya secara tertib menjadi 38 petak, dengan masing-masing petak berukuran sekitar 5.000 meter persegi.Setiap petak mendapatkan jatah pengairan selama tiga jam, satu kali dalam sepekan.
Tugas utama Legiman adalah membuka dan menutup tulakan, yakni lubang kecil pada pematang sawah yang menjadi pintu masuk air dari saluran irigasi ke dalam petak tanaman itu.
Ketika air mulai langka di musim kemarau, hanya subak yang berwenang mengatur buka-tutup tulakan tersebut dengan cangkulnya, memastikan tidak ada petani yang berebut atau memindahkan aliran air secara sepihak demi menjaga kerukunan antarwarga.
Kendati saluran air telah mengalir ke parit-parit sawah, para petani di masa-masa awal sempat terbebani oleh tingginya ongkos operasional pompa penyedot air.
Air dari embung awalnya harus ditarik menggunakan mesin pompa berbahan bakar solar sebelum dialirkan melintasi petak-petak irigasi.
Dari sini petani harus patungan membeli solar sekitar Rp50.000 untuk satu kali periode pengairan per pekan. Beban pengeluaran rutin tersebut dirasakan cukup berat bagi petani kecil dan kerap menjadi keluhan utama dalam agenda musyawarah rembug paguyuban Gapoktan Ngudi Rukun yang digelar setiap bulannya.
Tenaga surya
Beban biaya bahan bakar tersebut kini terhapus seiring diterapkannya inovasi energi bersih di kawasan embung. Melalui instalasi delapan unit panel surya, empat di antaranya adalah generasi baru berkapasitas puncak 585 Watt peak per unit atau total 2.340 Watt peak hasil rekayasa tim Gepo Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), mesin submersible atau pompa celup penarik air embung kini digerakkan sepenuhnya oleh tenaga matahari.
Meski baru bisa berproduksi optimal pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, teknologi surya ini mampu mengalirkan air menuju parit irigasi tanpa membebani biaya bahan bakar minyak sepeser pun.
Oleh sebab itu, kehadiran instalasi panel surya disambut dengan harapan besar untuk meringankan beban petani. Dengan pompa bertenaga surya yang bekerja otomatis di siang hari tanpa biaya token listrik atau solar, pengaturan jadwal giliran air pun menjadi jauh lebih leluasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!