Asal-Usul Bintang Laut Terbongkar dari Fosil Berusia 518 Juta Tahun
Kamis, 08 Okt 2026, 07:27 WIB | Oleh: Haryo BronoCara hidup seperti itu penting untuk memahami sejarah evolusi Ambulacraria, kelompok besar yang mencakup Echinodermata—seperti bintang laut dan bulu babi—serta Hemichordata, termasuk cacing acorn. Sebab, sistem makan menggunakan tentakel ternyata dapat menjadi petunjuk mengenai bentuk tubuh nenek moyang kelompok tersebut.
Nenek Moyang Bintang Laut Mirip Cacing?
Ambulacraria merupakan salah satu cabang utama dalam kelompok Deuterostomia. Cabang lainnya adalah Chordata, kelompok yang mencakup manusia dan vertebrata. Para ilmuwan telah lama mencoba merekonstruksi seperti apa bentuk tubuh nenek moyang bersama Ambulacraria.
Masalahnya, dua kelompok utama yang hidup sekarang memiliki penampilan sangat berbeda. Cacing acorn memiliki tubuh memanjang dan simetri bilateral, dengan sisi kiri dan kanan yang jelas. Bintang laut justru memiliki bentuk tubuh radial yang pada umumnya tersusun dalam pola lima bagian.
Perbedaan ekstrem itu menimbulkan pertanyaan: seperti apa sebenarnya bentuk tubuh yang dimiliki nenek moyang mereka? Salah satu hipotesis lama menggambarkan nenek moyang tersebut sebagai hewan mirip cacing yang hidup di dasar laut, kemungkinan di dalam sedimen, dan menyaring makanan melalui sistem faring serta celah insang. Namun, Yujingia menawarkan kemungkinan lain.
“Sudah ada kecenderungan untuk menganggap nenek moyang bersama Ambulacraria lebih menyerupai cacing yang hidup di liang dasar laut dan menyaring makanan dari air,” kata Giovanni Mussini dari Department of Earth Sciences, University of Cambridge.
Menurut Mussini, fosil baru tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang Ambulacraria mungkin justru menggunakan tentakel untuk memperoleh makanan dan secara anatomi lebih menyerupai bintang laut serta kerabatnya. Artinya, ciri yang tampak sangat khas pada bintang laut modern mungkin memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Bukan Nenek Moyang Langsung
Meski penting, para peneliti tidak mengatakan bahwa Yujingia merupakan nenek moyang langsung bintang laut atau cacing acorn modern.
Dalam evolusi, posisi sebuah fosil di pohon kehidupan tidak selalu berarti hewan tersebut merupakan leluhur langsung spesies yang hidup sekarang. Lebih sering, fosil memberikan gambaran tentang kerabat dekat atau bentuk tubuh yang hidup di sekitar periode ketika suatu garis keturunan mulai bercabang.
Untuk menentukan posisi Yujingia, tim peneliti membandingkan 505 karakter anatomi dari 100 kelompok hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah. Data tersebut dianalisis menggunakan rekonstruksi filogenetik Bayesian, sebuah metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan kekerabatan berdasarkan kesamaan dan perbedaan karakter.
Hasil analisis menempatkan Yujingia dekat dengan cabang yang menuju nenek moyang bersama Ambulacraria modern. Posisi tersebut membuat fosil ini menjadi semacam potongan puzzle yang sebelumnya hilang. Ia menghubungkan kelompok hewan Kambrium yang memiliki tentakel dengan dua garis keturunan yang sekarang tampak sangat berbeda: Echinodermata dan Hemichordata.
“Yujingia membantu menghubungkan hewan primitif bertentakel yang hidup di dasar laut dengan Echinodermata dan Hemichordata modern,” kata Degan Shu dari Northwest University.
Menurut Shu, temuan tersebut juga memberikan petunjuk baru untuk memahami perubahan besar dari tubuh bilateral menuju pola tubuh radial lima bagian yang menjadi ciri Echinodermata.
Perubahan tersebut merupakan salah satu teka-teki menarik dalam evolusi hewan. Tubuh manusia, cacing acorn, ikan, dan sebagian besar hewan lainnya mengikuti pola bilateral. Jika tubuh dibelah secara memanjang, sisi kiri dan kanan pada dasarnya merupakan cerminan satu sama lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!