Dedi Mulyadi Peringatkan Ancaman Bencana Longsor Akibat Alih Fungsi Kebun Teh Pangalengan
Kamis, 29 Okt 2026, 17:47 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Ricky Prayoga
BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan ancaman bencana kiamat ekologis dan tanah longsor masif di kawasan Bandung Selatan akibat maraknya alih fungsi kebun teh menjadi lahan pertanian sayur komersial.
Peringatan tersebut dilontarkan Dedi Mulyadi di Bandung, Kamis (29/10), menyikapi aksi perusakan sedikitnya 5.000 pohon teh di sekitar 0,4 hektare lahan milik PTPN I Regional 2 Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang digergaji oleh oknum tak bertanggung jawab sehingga memicu kemarahan Aliansi Petani Pangalengan (APP).
Dedi menggarisbawahi bahwa fokus utamanya bukan pada pusaran konflik agraria yang kemungkinan melatarbelakanginya, melainkan pada hilangnya tanaman berakar kuat yang memiliki fungsi vital konservasi tanah dan pencegahan bencana alam di kawasan lereng pegunungan.
"Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana. Kalau kebun teh terus ditebangin, diganti dengan perkebunan sayur, nanti longsor. Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya," ujar Dedi melalui pernyataan resminya.
Dedi mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan berulang, termasuk pada kawasan hutan yang sempat mengalami kebakaran lahan, sering kali dimanfaatkan oleh kelompok berkepentingan yang berorientasi pada pundi-pundi kekayaan pribadi dengan mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat lokal.
Dedi menegaskan pihaknya meminta warga perdesaan dan para petani tidak tergiur menjadi instrumen segelintir pihak yang bersembunyi di balik bisnis tanaman sayur tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan perkebunan lereng terjal.
"Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan. Kalau sudah jadi bencana nanti yang repot kita semua. Untuk itu semoga ini menjadi kesadaran, tidak melakukan tindakan berulang," ucap Dedi.
Dedi mengatakan Pemprov Jabar menegaskan bahwa perlindungan vegetasi kebun teh di Pangalengan dan Ciwidey bersifat absolut mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi berpotensi memicu bencana ekologis fatal di masa depan.
Dia menambahkan upaya mempertahankan tutupan lahan dan fungsi konservasi alam di kawasan perbukitan Bandung Selatan menjadi kunci utama pemerintah daerah untuk menekan risiko bahaya tanah longsor serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!