Telkom Ungkap 5 Industri AI Masa Depan, Pusat Data Jadi Kunci
Kamis, 29 Okt 2026, 17:25 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Telkom
JAKARTA - Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Nanang Hendarno mengungkap lima sektor yang berpotensi menjadi industri global masa depan seiring perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, peluang bisnis AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur, ekosistem mitra, kebutuhan pasar, dan investasi jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Nanang dalam sesi pleno bertajuk "The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?" pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10). Dalam forum tersebut, ia berdiskusi bersama Teddy Liu, Executive Director sekaligus CEO JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited, serta Sara Supaamornkul, Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis.
Diskusi yang dipandu Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Irwan Rei itu membahas teknologi yang berpotensi melahirkan industri baru dari perspektif digital, bisnis, dan pembangunan infrastruktur. Para pembicara juga menyoroti pentingnya menghubungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan pengguna agar dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Nanang menjelaskan, penurunan biaya penggunaan AI membuka peluang bagi teknologi tersebut untuk diadopsi lebih luas oleh perusahaan maupun masyarakat. Sejak 2022, biaya per kueri AI disebut turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat hingga tujuh kali lipat dalam satu tahun.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis AI tidak terbatas pada penjualan teknologi, tetapi juga mencakup penyediaan infrastruktur yang mendukung penggunaannya. Infrastruktur konektivitas, pusat data, komputasi, dan sistem pendukung lainnya akan semakin dibutuhkan seiring meningkatnya konsumsi layanan AI.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas," ujar Nanang.
Meski demikian, peningkatan adopsi AI belum selalu menghasilkan keuntungan bisnis yang sebanding. Nanang memaparkan bahwa 95 persen proyek percontohan AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan, sedangkan hanya 25 persen perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) sesuai harapan.
Ia juga menyoroti masih terbatasnya integrasi AI dalam proses kerja perusahaan. Baru sekitar 21 persen perusahaan yang telah mendesain ulang alur kerja untuk memanfaatkan teknologi tersebut, sehingga penerapan AI perlu disertai perubahan proses bisnis, bukan sekadar mengadopsi perangkat baru.
Berdasarkan analisis Telkom, terdapat lima kandidat industri global masa depan yang berpotensi tumbuh seiring perkembangan AI dan teknologi digital. Kelima sektor tersebut mencakup konektivitas terintegrasi, pusat data AI berskala besar, infrastruktur kepercayaan digital, ekonomi berbasis agen AI, serta layanan otonom berbasis AI.
Konektivitas terintegrasi mencakup jaringan darat, laut, udara, hingga edge AI yang memungkinkan pemrosesan data lebih dekat dengan sumbernya. Sementara itu, pusat data AI berskala besar membutuhkan dukungan komputasi dan pasokan energi yang andal untuk menangani beban kerja AI yang terus meningkat.
Adapun infrastruktur kepercayaan digital berperan mendukung keamanan dan keandalan layanan, sedangkan ekonomi berbasis agen AI atau agentic economy membuka peluang bagi sistem AI untuk menjalankan tugas secara lebih mandiri. Sektor Autonomous-as-a-Service juga berpotensi menghadirkan layanan otonom untuk kebutuhan industri maupun pemerintahan.
Dari kelima sektor tersebut, konektivitas terintegrasi dan pusat data merupakan kapabilitas inti yang telah dikembangkan Telkom. Tiga sektor lainnya menjadi area yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan seiring terbentuknya kebutuhan pasar dan kesiapan ekosistem pendukung.
Untuk mendukung pertumbuhan industri AI, Telkom membangun fondasi melalui pengembangan konektivitas, pusat data, serta platform dan aplikasi AI. Perusahaan tersebut memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional atau international Points of Presence (PoPs).
Di sisi infrastruktur komputasi, NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data sebesar 48,4 megawatt per kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara. Telkom juga memiliki aspirasi memperluas kapasitas pusat datanya hingga mencapai 1 gigawatt untuk mengantisipasi kebutuhan komputasi yang terus berkembang.
Pengembangan pusat data AI tidak hanya membutuhkan kapasitas komputasi besar, tetapi juga pasokan energi dan sistem pendinginan yang andal. Kedua aspek tersebut menjadi faktor penting untuk menjaga operasional infrastruktur digital ketika kebutuhan pemrosesan data meningkat.
Sementara itu, melalui Model Hub, Telkom menyediakan akses dan tata kelola berbagai model AI, baik model global, model berdaulat, maupun model yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu. Platform tersebut juga mendukung pengembangan aplikasi serta penerapan AI dalam berbagai kasus penggunaan atau use case.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!