Pengamat: Regenerasi Petani Jadi Tantangan Akibat Minat Anak Muda Rendah
Kamis, 29 Okt 2026, 14:48 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Pexels
JAKARTA - Rendahnya minat anak muda terhadap pertanian menjadi tantangan bagi regenerasi petani dan keberlanjutan pangan Indonesia. Sekretaris Jenderal Petani Milenial Sleman, Isnaini Baroroh, menyebut keterlibatan pemuda penting untuk menjaga sektor tersebut.
Isnaini mengatakan petani di berbagai wilayah masih didominasi kelompok usia lanjut, sementara generasi muda belum banyak tertarik. Ia menilai anggapan pertanian kotor, berat, dan berpenghasilan tidak menentu memengaruhi minat anak muda.
“Tantangan utamanya adalah paradigma yang tertanam di seluruh masyarakat bahwa petani itu kotor, tidak menentu hasilnya. Bahkan mereka memikirkan petani itu tidak punya hasil yang tetap, petani itu berat kerjanya,” kata Isnaini, Rabu (28/10).
Menurut dia, kemajuan teknologi membuka peluang bagi kaum muda mengembangkan pertanian secara lebih modern. Penggunaan alat dan mesin pertanian dapat mengubah pandangan bahwa pekerjaan petani selalu bergantung pada tenaga fisik.
Ia memberi contoh pemanfaatan smart farming dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung kegiatan pertanian. Teknologi drone juga dapat dipakai untuk penyemprotan sehingga pekerjaan tertentu menjadi lebih efisien.
Isnaini menyatakan peluang anak muda di sektor pertanian tidak terbatas pada menanam dan memanen. Mereka juga dapat menggarap pengolahan hasil, pengembangan produk, perluasan pasar, hingga peluang ekspor.
“Petani sekarang sudah tidak harus panas-panasan, kita sudah banyak alsintan yang diciptakan, yaitu alat mesin pertanian. Kita sudah banyak teknologi, bahkan lebih canggih dari di kantor, sudah pakai smart farming, internet of things,” ungkap dia.
Menurut Isnaini, keterlibatan anak muda dalam pertanian merupakan bentuk kontribusi terhadap bangsa. Ia mengajak generasi milenial dan Gen Z memahami potensi pertanian sebagai ruang pengabdian kepada negara.
Di sisi lain, Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang, Imron Wasi, menyoroti pentingnya pendidikan dalam membangun masa depan. Ia menilai akses pendidikan bisa membuka peluang perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas.
Imron menjelaskan abhwa pendidikan juga berperan penting dalam membentuk daya kritis serta kesadaran generasi muda dalam kehidupan bernegara. Menurut pandangannya, kesempatan pendidikan harus menjangkau masyarakat kurang mampu agar tidak memperluas kesenjangan sosial.
“Karena saya meyakini bahwa dengan pendidikan itu kita bisa menciptakan perubahan-perubahan. Seperti yang disampaikan oleh filsuf Brasil, Pak Paulo Freire, bahwa pendidikan itu bisa menciptakan daya kritis dan perubahan,” ujar dia.
Selain itu, Imron menilai dukungan pemerintah terhadap generasi muda juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan anak muda. Ia menegaskan, keterbatasan kesempatan serta minimnya keterlibatan pemuda mampu memunculkan keraguan terhadap masa depan negara.
Imron dan Isnaini turut menekankan pentingnya dukungan dan keterlibatan generasi muda dalam pembangunan bangsa. Penguatan pendidikan serta regenerasi petani menjadi salah satu upaya menjaga ketahanan pangan, memperluas kesempatan, serta mendukung persatuan bangsa. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!