Roman, Teleskop Pemburu Eksoplanet yang Mulai Menatap Langit
Selasa, 06 Okt 2026, 07:22 WIB | Oleh: Haryo BronoKemampuan tersebut sangat penting dalam pencitraan langsung eksoplanet. Sebuah planet yang mengorbit bintang lain biasanya jauh lebih redup daripada bintang induknya. Cahaya bintang yang sangat terang dapat dengan mudah menutupi planet tersebut.
Koronagraf Roman menggunakan kombinasi teknologi optik, masker, dan cermin deformabel untuk mengurangi gangguan cahaya bintang. Cermin deformabelnya dapat mengubah bentuk secara sangat presisi guna mengoreksi ketidaksempurnaan kecil pada sistem optik.
NASA menyebut teknologi koronagraf ini dirancang untuk mendemonstrasikan kemampuan penekanan cahaya bintang yang jauh lebih tinggi dibandingkan koronagraf yang pernah diterbangkan pada teleskop antariksa sebelumnya.
Pada 1 September lalu, Coronagraph Instrument mulai diaktifkan. Setelah berbagai komponen digital, elektronik, dan mekaniknya diperiksa, tim melanjutkan dengan serangkaian kalibrasi dan pengujian. Pada 22 September, instrumen tersebut untuk pertama kalinya menerima cahaya kosmik.
Pengamatan itu masih sangat terbatas, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa koronagraf mampu menghasilkan gambar yang fokus. Pada pengujian berikutnya, 27 September, detektor didinginkan untuk meningkatkan sensitivitas dan instrumen diarahkan ke wilayah lain di Awan Magellan Besar.
Yang menggembirakan, beberapa bintang berhasil muncul dalam satu bidang gambar, memberikan konfirmasi tambahan bahwa sistem pointing dan kemampuan deteksi instrumen bekerja sebagaimana diharapkan.
Kapan Roman Benar-benar Mulai Bekerja?
Pertanyaan ini penting karena istilah seperti “cahaya pertama” atau “gambar pertama” mudah disalahartikan sebagai dimulainya misi ilmiah. Pada kenyataannya, gambar-gambar yang diperoleh selama September merupakan bagian dari proses commissioning.
Para ilmuwan belum menggunakan Roman untuk menjalankan survei kosmos secara rutin, melainkan sedang memastikan setiap komponen—dari optik, detektor, sistem pemandu, mekanisme fokus, hingga komunikasi—siap bekerja sebagai satu kesatuan.
Setelah commissioning selesai, Roman akan memasuki tahap operasi ilmiah. Dalam fase tersebut, WFI akan menjalankan survei inframerah dalam bidang pandang luas untuk mempelajari struktur dan evolusi alam semesta. Roman juga akan digunakan untuk penelitian eksoplanet, termasuk sensus statistik sistem keplanetan di galaksi Bimasaksi. NASA menyebut misi ini berpotensi menemukan sekitar 100.000 eksoplanet baru selama surveinya.
Sementara itu, Coronagraph Instrument memiliki tujuan yang lebih bersifat demonstrasi teknologi. Instrumen ini akan menguji teknik pencitraan langsung berkontras tinggi yang dapat membantu pengembangan teknologi teleskop masa depan untuk mempelajari planet yang lebih kecil dan lebih mirip Bumi.
NASA menargetkan gambar-gambar sains pertama Roman pada awal 2027. Artinya, masih ada sejumlah pekerjaan penting yang harus diselesaikan sebelum teleskop memasuki fase operasi ilmiah penuh.
Dengan demikian, posisi Roman saat ini dapat digambarkan secara sederhana: teleskopnya sudah terbang, instrumennya sudah mulai melihat cahaya kosmik, tetapi misi sains utamanya belum dimulai.
Semua pencapaian tersebut merupakan bagian dari satu tahap yang sama: memastikan bahwa ketika Roman akhirnya mulai melakukan survei pada 2027, teleskop tidak sekadar dapat melihat alam semesta, tetapi mampu melihatnya dengan ketajaman yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang alam semesta. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!